Thursday, May 24, 2018

Sebelum Berubah Harus Terbuka


Banyak orang menginginkan perubahan. Perubahan menjadi baik. Perubahan menjadi lebih baik. Perubahan menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi.

Terlepas dari perbedaan akan parameter sesuatu layak disebut telah berubah, parameter berhasil, dan parameter menjadi lebih baik ITU BERBEDA tiap individu. Kali ini saya mengenyampingkan soal parameter.

Mungkin anda juga sering mendengar keluhan atau ungkapan di sekitar anda:

Saya bodoh mas, saya pengen pinter...
Saya miskin mas, saya pengen kaya...
Saya hitam mas, saya pengen putih...
Saya kurus mas, saya pengen gemuk...
Saya gemuk mas, saya pengen langsing...
Saya jomblo mas, saya pengen punya istri empat mas... Haha...

Dan lain sebagainya..

Perubahan harus dilakukan. Perubahan harus diupayakan. Perubahan harus dimohonkan dalam setiap doa kita. Perubahan harus dijemput.

Temen-temen kalau bercanda: jodoh dan rejeki itu di tangan Tuhan, maka jemputlah... kalau tak mau jemput, ya jodohmu dan rejekimu di tangan Tuhan terus...

Setelah melewati banyak pengalaman dan diskusi dalam banyak kesempatan, saya ambil sebuah simpul, bahwa: perubahan tak mungkin terjadi tanpa kita berupaya mengubah. Dan upaya mengubah itu, selalu diawali dengan keterbukaan.

Keterbukaan, bukan berarti kita blak-blakan membuka aib dan kesungguhan kita untuk mengeluh secara konsisten. Tidak itu. Tapi keterbukaan yang saya maksud adalah kita buka mata, buka hati, buka pikiran untuk menerima banyak hal positif dan banyak fenomena perubahan dunia. Kita baca, kita pikir dan kita renungkan hal positif dan informasi dari luar untuk kita kelolah dalam diri kita sendiri. Saya sebut ini adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang sering disebut: belajar.

Keterbukaan bukan saya mengajak anda bermental infotainment yang suka membuka yang tak penting untuk dibuka. Namun keterbukaan ini lebih berupa sebuah inklusifitas,

Sebelum ini saya posting selintas fakta perubahan dunia di posting saya https://www.adib.club/2018/05/dunia-ini-berubah-tiap-detik-masihkah.html

Belajar tak mengenal usia. Belajar tak mengenal pada siapa. Belajar tak mengenal gelar akademik.

Kita sudah tua, merasa sudah hebat, kemudian merasa tidak pantas belajar pada yang lebih muda, ini adalah ketertutupan.

Kita yang menyandang status sosial atau status ekonomi lebih tinggi, kemudian merasa lebih berhak mengajari, dan tidak menerima hal baik dari yang lebih rendah status sosial ekonominya dibanding kita, ini adalah ketertutupan.

Kita yang telah sekian kali di wisuda di berbagai universitas, merasa lebih hebat dari orang yang SD saja tidak tamat, dan tidak menerima hal positif darinya, ini juga adalah ketertutupan.

Ketertutupan adalah negasi dari keterbukaan.

Ketertutupan pastilah sebuah sikap kontraproduktif, yang mendorong kita berjalan mundur, mengagumi kehebatan kita di masa silam, padahal sekarang bukanlah masa silam. Sekarang adalah awal mula masa depan. Sedang di depan menunggu banyak hal yang harus dijawab dengan ilmu-ilmu baru, pengalaman-pengalaman baru, dan teori lama mungkin harus kita simpan rapi di perpustakaan pribadi, sebab teori yang sudah tidak relevan sebaiknya tidak dijadikan alasan menjadi arogan.

Lebih dari 5 kota di pulau Jawa ini saya pernah tinggal dan bertahan hidup, terhitung sejak 1994 sampai sekarang 2018. Namun untuk hal keterbukaan, inklusifitas dan kesadaran belajar masyarakat...saya kagum Yogyakarta. Meski tidak lama, kurang lebih hanya 4 tahun saja, namun setiap hari saya mengamati langsung perilaku masyarakat Yogyakarta, dari berbagai level sosial, akademik, maupun ekonomik.

Di Jogja, demikian orang sering menyebut Yogyakarta, tukang becak pun sambil menunggu penumpang mereka baca koran. Itu setiap hari. Bukan hanya kalau ada yang ngasih koran. Mereka beli tiap pagi.

Saya saksikan di Jogja, para customer service di kantor-kantor layanan instansi pemerintah, perusahaan-perusahaan besar sampai sales counter usaha kecil...saat menunggu konsumen, saat waktu luang, mereka baca koran, baca buku, dan baca internet.

Pedagang kaki lima, sambil nunggu dagangannya, saat nggak ada pembeli, mereka akrab dengan koran, majalah dan bacaan lainnya.

Diskusi di angkringan Jogja, sudah bukan hal baru lagi. Itu seakan sudah menjadi bagian tak terlepaskan dari budaya. Sudah mendarah daging. Sepertinya begitu. Perdebatan tak ringan sering kita temui terjadi diantara mereka.

Mereka tidak memanfaatkan waktu luang untuk bicara soal infotainment, mengumbar air pasangannya, bicarakan aib keluarganya, bicara aib sahabatnya, atau bicara aib tetangganya. Yaa..sesekali mereka juga ngerumpi. Namun porsinya sangat sedikit.

Ada dua hal yang saya garis bawahi atas keterbukaan itu tadi. Yakni terbuka terhadap definisi dan terhadap regulasi.

Definisi

Definisi adalah suatu batasan atau arti, bisa juga dimaknai kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas (https://id.wikipedia.org/wiki/Definisi)

Definisi ada yang mutlak tetap. Ada pula definisi yang bergerak mengikuti perkembangan jaman.

Definisi mutlak tetap, misalnya definisi "sholat". Sejak dahulu setelah Isra Mi'raj Nabi Muhammad sampai nanti akhir zaman, definisinya tetap dan mutlak tetap. Ada berbagai macam perbedaan, namun tetaplah sholat tetap lah begitu adanya.

Sedang definisi yang relatif, bergantung pada apa/siapa ia terkait, arti yang bergerak mengikuti perkembangan jaman inilah yang kita musti terbuka menerimanya.

Misal, definisi:
Regulasi

Saat ini, boleh kita memahami bahwa regulasi adalah peraturan yang diundangkan oleh pemerintah. Dan boleh pula kita memahami bahwa regulasi bisnis dalam ilmu ekonomi adalah segala bentuk aturan yang ditetapkan untuk mengendalikan perilaku bisnis.

Bisa dalam bentuk pembatasan hukum perundang-undangan oleh tangan pemerintah. Bisa berbentuk aturan dalam intern industri. Bisa pula berwujud peraturan asosiasi-asosiasi perdagangan. Semua itu regulasi.

Namun 10 tahun ke depan, mungkin maknanya sudah tak sama dengan sekarang. Sebab 10 tahun silam, regulasi soal bisnis MLM sudah tak sama persis dengan sekarang.

Ya. Mulai UU, sampai pemaknaan "tata aturan lokal tentang suatu hal yang kecil" pun kita mau-tidak-mau harus menyesuaikan.

Dan Banyak Lagi...

Orang bisa berubah, dari kondisi sekarang menjadi kondisi yang diinginkan. Karena sebelumnya ia melakukan sesatu secara baik, terukur, konsisten, dan tepat.

Orang bisa melakukan sesuatu secara baik, terukur, konsisten dan tepat... berawal dari pola pikirnya terarah dengan baik dan komitmen.

Pola pikir menjadi lebih baik dan komitmen menjadi lebih kuat, sebab adanya perubahan pemikiran, perubahan paradigma, perubahan orientasi atau perubahan visi.

Nah, perubahan ini diawali dengan keterbukaan. Terbuka terhadap ilmu. Terbuka terhadap kebenaran. Terbuka terhadap semangat postif dan terbuka terhadap segala macam perubahan.

Jadi, SUKSES ibarat sebuah akhir dari satu matarantai, TERBUKA adalah awal dari mata rantai tersebut.

Sekian share dari saya, salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

No comments:

Post a Comment