Thursday, May 10, 2018

Saya Tidak Bisa Menulis Serius, Tapi Saya Pengen Punya Blog


Alhamdulillah...
Saya bisa posting lagi. Sebab dibalik sebuah posting banyak hal yang harus saya syukuri. Diantaranya: saya masih punya waktu untuk berbagi, saya masih bisa berpikir positif, dan saya masih dikaruniai hati yang terpanggil untuk berbagi, dengan harapan untuk kebaikan bersama.

Tujuan berbagi kebaikan itulah tujuan utama saya membuat blog ini, seperti saya sampaikan di deskripsi blog.

Ya...
Barusan ngobrol dengan teman Aliyah (SMA) via WhatsApp.

Biasa lah... obrolan teman lama yang sudah sekian waktu tidak bertemu. Obrolan yang kental dengan nostalgia dan mengenang masa silam. Namun ada satu bahasan singkat yang tak menjadi topik utama, tapi justru itu menginspirasi saya untuk posting ini.

Teman lama yang tidak saling bertemu, dan entah bagaimana awalnya dia bisa menemukan blog saya ini, sebelum menemukan nomer WhatsApp saya, dan akhirnya bisa ngobrol via aplikasi chat tadi itu. Jadi sebelum dia ngobrol dengan saya, terlebih dahulu menemukan blog saya ini.

Entah serius atau sekedar basa-basi, bahwa ia sempat mengutarakan: pengen punya blog, seperti halnya saya, tapi dia tak bisa menulis serius.

Hehehe... saya bilang: Blog Itu Bukan Skripsi atau Disertasi. Kalau blog itu harus berisi tulisan serius, pastilah blogku ini tidak memberitahumu nomer WhatsApp ku.

Bagi saya, agar blog itu kerasa citarasa blog-nya, malah malah dan malah... harus personal banget, harus se-apa adanya mungkin, dan tak harus mengungkap kebenaran ilmiah akademik.

Intan Dalam Lumpur, Tetaplah Intan

Intan dalam bejana megah, ia tetap intan. Intan dalam lumpur, tetaplah intan. Karena pada hakikatnya, kebenaran yang disajikan dalam bentuk apapun, tetaplah kebenaran. Kebaikan disajikan dengan cara tegas atau dengan cara humor, tetaplah kebaikan.

Kebenaran hakiki yang disampaikan secara personal, akan tetap kebenaran. Personalisasi ini saya pikir bisa berbentuk cara penyajian. Artinya bila seorang yang serius, maka ia cenderung menyampaikan kebenaran secara serius. Bila seorang humoris, tentu lebih suka menyampaikan kebenaran dalam ungkapan-ungkapan jenaka.

Personalisasi juga bisa bermaksud bentuk reformulasi. Kebenaran mutlak ilahiyah, yang disampaikan oleh seseorang, tentu berbeda dengan yang disampaikan orang lainnya. Artinya kebenaran mutlak ilahiyah yang tersampaikan dalam kitab suci, diserap oleh akal dan hati seseorang yang berbeda, yang disampaikan orang-per-orang (sedikit atau banyak, disadari atau tidak) akan bercampur dengan segala hal yang melingkupi individu bersangkutan.

Setiap individu itu dasar fitrahnya adalah unik, berbeda satu dengan lainnya. Sekaligus setiap individu itu kompleks, artinya banyak hal yang turut membentuk ke-khas-an tiap orang.

Ada banyak hal yang menentukan khas setiap individu. Kecerdasan otaknya, sensitifitas rasanya dalam menerima keindahan dan kebenaran, pengalaman hidupnya yang tak sama, karakter yang berbeda, dan (mungkin juga termasuk) kepentingan yang berbeda. Dari kepentingan sosial, kepentingan ekonomi, sampai kepentingan politis yang berbeda.

Akhirnya personalisasi kebenaran mutlak ilahiyah yang tersampaikan oleh satu individu tertentu, dan selintas berbeda dengan individu lain, kerap disebut kebenaran personal. Bukan lagi kebenaran ilahiyah.

Itu jika kita bicara kebenaran ilahiyah.

Sama halnya bila kita bicara kebenaran ilmiah. Sebuah kebenaran ilmiah akademik, yang diserap seorang individu dengan karakter dan kapasitas yang berbeda, maka kebenaran ilmiah itu pun berpotensi disampaikan dengan cara yang berbeda pula. Bahkan selintas akan menjadi kebenaran ilmiah yang berbeda. Singkat kata pun, disebut kebenaran personal juga.

Sampai saat ini, saya masih meyakini bahwa semua kebenaran dan kebaikan yang ada di muka bumi ini, yang ada sejak Nabi Adam dulu, hingga akhir zaman nanti, semuanya bersumber dari Ilahi. Artinya semuanya berasal dari Alloh. Wa'allamal asma'a kullaha, dan Alloh mengajarkan nama-nama atas semua yang ada di muka bumi ini pada Adam. Dimana nama-nama itu adalah komponen bahasa. Nama benda, nama rasa, nama waktu, nama segalanya yang terangkai dalam sebuah bangunan makna, ia akan menjadi sebuah bahasa.

Ibarat air. Awal mula sumber air tetaplah air jernih. Di tangan yang berbeda, air itu bisa menjadi secangkir kopi hitam (karena bercampur dengan kopi + gula), di tangan lainnya bisa menjadi segelas teh (karena dicampur dengan daun teh), pun dalam kesempatan yang berbeda air akan menjadi zat pembersih, air juga menjadi komponen utama kehidupan yang digunakan dengan cara yang berbeda antara manusia-manusia di satu belahan dunia dengan manusia di belahan dunia lain, dan lain sebagainya...dan lain sebagainya. Bahkan antara satu orang dengan lainnya, cara bikin kopi nya juga berbeda, bahan kopinya berbeda, sehingga menghasilkan rasa kopi dan khasiat kopi yang berbeda pula.

Nah...
Kebenaran atau kebaikan yang disampaikan dengan cara yang berbeda pun... pada hakikatnya tetaplah kebenaran, tetaplah kebaikan.

Blog Harus Personal Banget

Saya pikir: kebenaran personal dan opini-opini singkat akan membuat blog itu kerasa lebih seksi.

Untuk anda dan siapa saja yang membaca posting saya kali ini. Khususnya buat teman saya yang telah mengisnpirasi saya hingga saya menulis ini, saya sampaikan pendapat saya bahwa: blog tak harus serius. Anda dan saya bebas berekspresi, dalam batasan tata aturan yang berlaku tentunya.

Bukan berarti semakin tidak serius, sebuah blog makin bagus. Tidak bisa begitu juga. Namun blog harus personal banget.

Personal yang saya maksud di sini bukan bermakna: privacy, atau kerahasiaan pribadi yang harus ditutup dan dilindungi dari intervensi publik. Namun yang saya maksud adalah cara penyajian yang berkarakter anda. Ya, cara penyampaian yang anda banget, yang gue banget, yang dengan gaya gue banget, gaya anda banget. Namun apa yang disampaikan dalam blog, yaaa...seperti ibarat saya di atas... tetaplah kebaikan atau kebenaran.

Kebenaran bisa bermakna segala yang berbentuk kaidah dan akidah.

Kebaikan bisa bermakna segala yang punya nilai luhur bagi agama, norma dan anda. Ya. kebaikan menurut anda.

Meski tidak selalu kebenaran dan kebaikan. Orang sebenarnya bebas saja mau blogging soal apa. Mau mempublikasikan perihal hobby atau segala yang menjadi daya tarik pribadi, hal yang ditekuni dan hal yang dikuasai.

Jadi bebas saja. Anda bisa menulis dalam bahasa yang sesuai aturan baku penulisan bahasa Indonesia, atau... anda bisa juga menulis tidak sesuai aturan. Apapun bisa anda posting dalam blog anda. Apapun bisa jadi muatan blog anda.

Di situlah justru sebuah blog akan nampak seksi. Menurut pandangan saya, begitu.

Sekian share dari saya kali ini. Semoga ini menginspirasi siapapun untuk berbagi kebaikan dengan blogging.

Silahkan simak pula posting saya lainnya, curhat tentang bloging:
  1. Percayalah, Bikin Blog Itu Sangat Mudah
  2. Saya Sedang Belajar: Cara Sukses Dengan Blog
Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

No comments:

Post a Comment