Thursday, May 17, 2018

Dunia Ini Berubah Tiap Detik, Masihkah Kita Diam Saja?


Dunia ini berubah terus. Tahun sekarang, sudah tak sama dengan tahun kemarin. Tiap bulan dunia mengalami perubahan. Tiap hari hidup terus berubah. Bahkan perubahan itu terjadi tiap detik. Tak terbendung. Tak terhalangi. Perubahan terjadi dan terus terjadi seiring dengan detak jarum jam yang terus memutar waktu.

Kenyataannya Hidup Ini Memang Berubah

Kita sadari atau tidak, kita akui atau tidak, mau atau tidak mau... perubahan itu benar-benar terjadi.

13 tahun lalu raksasa internet itu bernama Yahoo, kini terganti Google. 13 tahun silam, koran dan majalah menjadi media informasi ter-efektif, disamping televisi. Namun hari ini, diganti YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, Linkedin dan masih banyak lagi media internet yang jauh lebih mudah, lebih murah dan lebih dipercaya masyarakat.

13 tahun silam, kata "investasi" masih terasa angker. Dunia investasi seakan hanya terjamah oleh tangan konglomerat dan orang kaya kaliber dunia. Kenyataan hari ini, semua orang bisa membeli reksadana dengan uang Rp. 100.000. Dan kita tahu bersama, uang Rp. 100.000 hampir dipunyai oleh semua masyarakat kelas bawah kita.

13 tahun lalu, symbiannya Nokia merajai pasar ponsel hampir di seluruh dunia. Kemudian tergantikan Blackberry, meski kemudian keduanya tumbang tergilas Android. Kini Symbian nyaris menjadi kenangan dunia komunikasi.

13 tahun lalu, orang bangga belanja ke Matahari, Carefour, Hypermart, Giant, Ramayana, Hero dan lain sebagainya. Karena mereka adalah penguasa bisnis retail. Namun sekarang orang lebih bangga dan merasa lebih efektif/efisien belanja ke Bukalapak, Shopee, Tokopedia, Blibli, dan lain sebaganya.

13 tahun silam, mungkin anda malu bilang ke teman kuliah anda, bahwa ayah anda juga kerja jadi ojek selepas pulang kantor. Profesi ojek dipandang remeh dan tidak terhormat. Namun kini, tukang ojek banyak yang sarjana, bahkan lulusan pascasarjana. Dan mereka dengan bangganya mengantarkan penumpang-penumpangnya. Sebab ojek sekarang pakai aplikasi online, canggih dan profesional. Sudah jauh dari kesan kumuhnya sudut stasiun kereta atau kumalnya pojokan terminal bis.

Mau Berubahkah Kita?

Fakta-fakta perubahan tersebut, sebut saja cara saya menggambarkan betapa hidup ini dinamis. Namun ironisnya, kemalasan dalam diri kita selalu sangat kuat mengajak kita untuk statis. Diam seribu aksi. Bukan hanya diam seribu bahasa.

Fakta kejayaan masa silam yang kini tinggal kenangan, sangat mungkin disebabkan oleh ketidak mampuan untuk berubah mengikuti irama dinamika jaman.

Kadang saya berpikir: dinosaurus punah, mungkin karena mereka tak mau berubah. Sama halnya fakta-fakta di atas.

Di sekitar kita pun pasti banyak perubahan. Bahkan diri kita sendiri, disadari atau tidak, telah berubah.

Mungkin dulu jaya, sekarang terpuruk. Atau sebaliknya, dulu terpuruk sekarang jaya.

Saya masih meyakini bahwa Alloh tak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum itu mengubah dirinya sendiri. Artinya memang Alloh yang menentukan segala perubahan di dunia ini, namun adanya hukum sebab-akibat, sehingga Alloh menjamin akan mengubah nasib kita, asal kita berkemauan mengubah keadaan kita.

Sebab-akibat. Itu tak bisa dihilangkan. Untuk sukses, harus ada ikhtiar yang mengantar kita sampai di puncak sukses. Ikhtiar itu menjadi sebab, dan sukses itu adalah salah satu akibat dari ikhtiar kita.

Kita tak mungkin ada di dunia ini, bila ayah-ibu kita tak melakukan sedikitpun ikhtiar yang berakibat lahirnya kita ke dunia ini. Kita kecil, tak mungkin berubah menjadi sedewasa sekarang, tanpa ada ikhtiar orang tua kita membesarkan kita. Mungkin dulu kita kecil mengalami sakit parah, ayah-ibu kita melakukan ikhtiar atas kesembuhan kita. Jika tiada ikhtiar ayah-ibu kita, mungkin kita tak sampai sebesar dan sesehat sekarang.

Kalau saya blak-blakan, saya miris melihat stagnasi yang beberapa kali terjadi pada diri saya. Stagnan. Seakan dunia menjadi beku dan kaku. Namun saya sendiri telah membuktikan, dari sekian stagnasi yang terjadi, upaya keras untuk memperbaiki (tentu atas izin Alloh), stagnasi itu pun pecah. Perubahan kemudian terjadi. Dan begitu terus.

Dulu pernah saya bekerja, sangat enjoy. Namun keadaan berkata lain. Perusahaan bangkrut, dan saya harus kehilangan pekerjaan. Stagnasi pun terjadi. Kebekuan dan kepenatan menghinggapi.

Bukan hanya sekali, namun itu berkali-kali.

Maka sekarang, mumpung stagnasi dan keterpurukan belum terjadi pada kita, saya mengajak diri saya sendiri dan anda semua: mari kita terus belajar dan terus memperbaiki (artinya mengubah yang tak baik menjadi baik, mengubah yang baik menjadi lebih baik) atas keadaan kita sekarang.

Jika saya renungkan, satu hal yang terpenting adalah: terbuka terhadap informasi baru yang positif, terbuka menerima perubahan dunia, mengubah diri kita menyesuaikan, agar keterpurukan tak terjadi lagi.

Bila sampai hari ini kita tidak terbuka terhadap informasi dan perubahan, saya khawatir: 13 tahun yang akan datang, kita hanyalah orang-orang yang merugi, karena terlindas bahkan tersingkir oleh perubahan dunia.

Dunia yang terus berubah, pasti tak akan berhenti. Dunia terus berubah. Meski kita bersihkeras tidak ikut berubah.

BAYANGKAN, dulu anda komunikasi dengan teman anda yang jauh, dengan berkirim surat via kantor pos. Kemudian dunia komunikasi sudah berubah, sedang anda bersihkeras tidak mau mengikuti perubahan. Teman-teman anda sudah komunikasi via email, via whatsapp, via media sosial, sedang anda masih bersihkeras tidak memakai teknologi komunikasi yang kita mutahir. APAKAH anda tidak tergilas dan tersingkirkan dari dunia ini?

Mungkin anda akan menjadi manusia kesunyian, dan lama-kelamaan akan hilang.

Bahkan jika kita yang sekarang bekerja di Bank. Kemudian kita bersihkukuh tak mengikuti perkembangan dunia... sangat mungkin 10 tahun ke depan, bank akan mengalami metamorfosa, dan anda akan tertinggal. Sebab transaksi sudah terganti oleh Alipay, Paypal, & PayTren.

Berubah itu tak salah. Berubah itu harus. Agar kita tidak punah, kita harus berubah.

Sekian catatan saya kali ini. Semoga bisa membantu diri saya sendiri dan anda untuk merenung, memahami, kemudian berubah menjadi lebih baik.

Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.



No comments:

Post a Comment