Thursday, May 24, 2018

Sebelum Berubah Harus Terbuka


Banyak orang menginginkan perubahan. Perubahan menjadi baik. Perubahan menjadi lebih baik. Perubahan menjadi lebih baik lagi, lagi dan lagi.

Terlepas dari perbedaan akan parameter sesuatu layak disebut telah berubah, parameter berhasil, dan parameter menjadi lebih baik ITU BERBEDA tiap individu. Kali ini saya mengenyampingkan soal parameter.

Mungkin anda juga sering mendengar keluhan atau ungkapan di sekitar anda:

Saya bodoh mas, saya pengen pinter...
Saya miskin mas, saya pengen kaya...
Saya hitam mas, saya pengen putih...
Saya kurus mas, saya pengen gemuk...
Saya gemuk mas, saya pengen langsing...
Saya jomblo mas, saya pengen punya istri empat mas... Haha...

Dan lain sebagainya..

Perubahan harus dilakukan. Perubahan harus diupayakan. Perubahan harus dimohonkan dalam setiap doa kita. Perubahan harus dijemput.

Temen-temen kalau bercanda: jodoh dan rejeki itu di tangan Tuhan, maka jemputlah... kalau tak mau jemput, ya jodohmu dan rejekimu di tangan Tuhan terus...

Setelah melewati banyak pengalaman dan diskusi dalam banyak kesempatan, saya ambil sebuah simpul, bahwa: perubahan tak mungkin terjadi tanpa kita berupaya mengubah. Dan upaya mengubah itu, selalu diawali dengan keterbukaan.

Keterbukaan, bukan berarti kita blak-blakan membuka aib dan kesungguhan kita untuk mengeluh secara konsisten. Tidak itu. Tapi keterbukaan yang saya maksud adalah kita buka mata, buka hati, buka pikiran untuk menerima banyak hal positif dan banyak fenomena perubahan dunia. Kita baca, kita pikir dan kita renungkan hal positif dan informasi dari luar untuk kita kelolah dalam diri kita sendiri. Saya sebut ini adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang sering disebut: belajar.

Keterbukaan bukan saya mengajak anda bermental infotainment yang suka membuka yang tak penting untuk dibuka. Namun keterbukaan ini lebih berupa sebuah inklusifitas,

Sebelum ini saya posting selintas fakta perubahan dunia di posting saya https://www.adib.club/2018/05/dunia-ini-berubah-tiap-detik-masihkah.html

Belajar tak mengenal usia. Belajar tak mengenal pada siapa. Belajar tak mengenal gelar akademik.

Kita sudah tua, merasa sudah hebat, kemudian merasa tidak pantas belajar pada yang lebih muda, ini adalah ketertutupan.

Kita yang menyandang status sosial atau status ekonomi lebih tinggi, kemudian merasa lebih berhak mengajari, dan tidak menerima hal baik dari yang lebih rendah status sosial ekonominya dibanding kita, ini adalah ketertutupan.

Kita yang telah sekian kali di wisuda di berbagai universitas, merasa lebih hebat dari orang yang SD saja tidak tamat, dan tidak menerima hal positif darinya, ini juga adalah ketertutupan.

Ketertutupan adalah negasi dari keterbukaan.

Ketertutupan pastilah sebuah sikap kontraproduktif, yang mendorong kita berjalan mundur, mengagumi kehebatan kita di masa silam, padahal sekarang bukanlah masa silam. Sekarang adalah awal mula masa depan. Sedang di depan menunggu banyak hal yang harus dijawab dengan ilmu-ilmu baru, pengalaman-pengalaman baru, dan teori lama mungkin harus kita simpan rapi di perpustakaan pribadi, sebab teori yang sudah tidak relevan sebaiknya tidak dijadikan alasan menjadi arogan.

Lebih dari 5 kota di pulau Jawa ini saya pernah tinggal dan bertahan hidup, terhitung sejak 1994 sampai sekarang 2018. Namun untuk hal keterbukaan, inklusifitas dan kesadaran belajar masyarakat...saya kagum Yogyakarta. Meski tidak lama, kurang lebih hanya 4 tahun saja, namun setiap hari saya mengamati langsung perilaku masyarakat Yogyakarta, dari berbagai level sosial, akademik, maupun ekonomik.

Di Jogja, demikian orang sering menyebut Yogyakarta, tukang becak pun sambil menunggu penumpang mereka baca koran. Itu setiap hari. Bukan hanya kalau ada yang ngasih koran. Mereka beli tiap pagi.

Saya saksikan di Jogja, para customer service di kantor-kantor layanan instansi pemerintah, perusahaan-perusahaan besar sampai sales counter usaha kecil...saat menunggu konsumen, saat waktu luang, mereka baca koran, baca buku, dan baca internet.

Pedagang kaki lima, sambil nunggu dagangannya, saat nggak ada pembeli, mereka akrab dengan koran, majalah dan bacaan lainnya.

Diskusi di angkringan Jogja, sudah bukan hal baru lagi. Itu seakan sudah menjadi bagian tak terlepaskan dari budaya. Sudah mendarah daging. Sepertinya begitu. Perdebatan tak ringan sering kita temui terjadi diantara mereka.

Mereka tidak memanfaatkan waktu luang untuk bicara soal infotainment, mengumbar air pasangannya, bicarakan aib keluarganya, bicara aib sahabatnya, atau bicara aib tetangganya. Yaa..sesekali mereka juga ngerumpi. Namun porsinya sangat sedikit.

Ada dua hal yang saya garis bawahi atas keterbukaan itu tadi. Yakni terbuka terhadap definisi dan terhadap regulasi.

Definisi

Definisi adalah suatu batasan atau arti, bisa juga dimaknai kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas (https://id.wikipedia.org/wiki/Definisi)

Definisi ada yang mutlak tetap. Ada pula definisi yang bergerak mengikuti perkembangan jaman.

Definisi mutlak tetap, misalnya definisi "sholat". Sejak dahulu setelah Isra Mi'raj Nabi Muhammad sampai nanti akhir zaman, definisinya tetap dan mutlak tetap. Ada berbagai macam perbedaan, namun tetaplah sholat tetap lah begitu adanya.

Sedang definisi yang relatif, bergantung pada apa/siapa ia terkait, arti yang bergerak mengikuti perkembangan jaman inilah yang kita musti terbuka menerimanya.

Misal, definisi:
Regulasi

Saat ini, boleh kita memahami bahwa regulasi adalah peraturan yang diundangkan oleh pemerintah. Dan boleh pula kita memahami bahwa regulasi bisnis dalam ilmu ekonomi adalah segala bentuk aturan yang ditetapkan untuk mengendalikan perilaku bisnis.

Bisa dalam bentuk pembatasan hukum perundang-undangan oleh tangan pemerintah. Bisa berbentuk aturan dalam intern industri. Bisa pula berwujud peraturan asosiasi-asosiasi perdagangan. Semua itu regulasi.

Namun 10 tahun ke depan, mungkin maknanya sudah tak sama dengan sekarang. Sebab 10 tahun silam, regulasi soal bisnis MLM sudah tak sama persis dengan sekarang.

Ya. Mulai UU, sampai pemaknaan "tata aturan lokal tentang suatu hal yang kecil" pun kita mau-tidak-mau harus menyesuaikan.

Dan Banyak Lagi...

Orang bisa berubah, dari kondisi sekarang menjadi kondisi yang diinginkan. Karena sebelumnya ia melakukan sesatu secara baik, terukur, konsisten, dan tepat.

Orang bisa melakukan sesuatu secara baik, terukur, konsisten dan tepat... berawal dari pola pikirnya terarah dengan baik dan komitmen.

Pola pikir menjadi lebih baik dan komitmen menjadi lebih kuat, sebab adanya perubahan pemikiran, perubahan paradigma, perubahan orientasi atau perubahan visi.

Nah, perubahan ini diawali dengan keterbukaan. Terbuka terhadap ilmu. Terbuka terhadap kebenaran. Terbuka terhadap semangat postif dan terbuka terhadap segala macam perubahan.

Jadi, SUKSES ibarat sebuah akhir dari satu matarantai, TERBUKA adalah awal dari mata rantai tersebut.

Sekian share dari saya, salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

Tuesday, May 22, 2018

Beda Aksi Di Jaman Batu & Aksi Di Jaman Now


Lagi-lagi, saya bilang bahwa: pengalaman adalah proses mengalami. Bagi saya pengalaman adalah hal pribadi, jadi harus melalui yang namanya proses mengalami. Setelah itu barulah ada belajar dari pengalaman. Jika pengalaman adalah harus melalui sendiri, maka beda lagi dengan belajar dari pengalaman, tidaklah harus dari pengalaman pribadi.

Belajar bisa dari pengalaman pribadi, bisa dari pengalaman orang lain.

Nah, belum lama ini saya belajar dari pengalaman seorang rekan bisnis online. Baru-baru ini saja. Seperti biasanya pebisnis online di tahun 2018 ini, banyak share info-info peluang bisnis, info produk dan manfaat produknya dan share posting-posting promosi bisnis onlinenya di facebook.

Saya diberitahu seorang rekan ini, tolong lihat statusku yang ini deh.. komentar-komentarnya ada yang lucu. Kali aja bisa jadi ide atau inspirasi, syukur2 bisa meng-creat sebuah gagasan unik namun efektif dalam membangun bisnis online kita.

Habis baca pesan inboxnya, saya langsung lihat profilnya dan mencari statusnya yang dia maksud. Lucu juga sih. Ada perdebatan lumayan panjang di situ. Membahas soal aktifitas berbisnis mereka, namun ada keberbedaan dalam memahami makna dari AKSI.

Saya bilang ke rekan saya ini: sebenarnya kalian nggak ada yang salah, sama-sama benar, nggak ada yang lucu, karena sama-sama betul... yaa... pikiran ente betul di jaman now, sedangkan pikiran temen ente itu betulnya di jaman batu dulu... 

Dan kami pun menertawakan kelucuannya.

Satu hal yang menarik bagi saya untuk saya bahas di sini adalah: AKSI DI JAMAN BATU makna-nya sudah nggak relevan lagi dengan kondisi dan situasi sekarang, sudah berbeda dengan makna AKSI DI JAMAN NOW.

Aksi Di Jaman Batu


Di jaman manusia purba: Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, atau Homo Soliensis, manusia disebut aksi ketika ia selalu berpindah-pindah, ketika ia berburu dengan kapak dan senjata dari batu, ketika ia bisa menangkap ikan dengan alat-alat sederhana. Membuat api, membakar hasil buruan dan bisa memberi kawanannya makan.


Aksi Di Era Sebelum Internet


Seorang member / distributor MLM di era 90an, akan disebut beraksi ketika ia berdandan sangat rapi, berparfum elegan, rambut disisir klemis-mlintis, keluar rumah dengan buku presentasi yang bagus, bawa buku catatan yang tebal (karena harus berisi daftar nama, plan aktifitas harian, dan lain sebagainya), bawa brosur banyak, dan bawa sample product untuk demo, pakai motor/mobil yang bagus (kreditan atau pinjaman, yang penting keren). Janjian bertemu calon prospek di tempat-tempat prestisius, dan banyak lagi pencitraan yang harus dibangun untuk melakukan ACTION.

Kalau belum kepanasan dan kehujanan di jalan, ia belum sempurna disebut ACTION. Kalau belum berdarah-darah membangun jaringan, ia belum disebut ACTION.

Aksi Di Jaman Now




Makna ACTION di jaman now (alias era internet, dimana komunikasi di dunia maya semakin kuat dan semakin menentukan hajat hidup manusia) sudah tentu sangat berbeda dengan era-era sebelumnya.

Seorang distributor / IBO / member sebuah perusahaan MLM bisa melakukan segala aktiftas bisnisnya hanya dengan leptop (atau smartphone) yang dilengkapi dengan koneksi internet.

Distributor kit, buku presentasi, brosur, buku daftar nama, kaset motivasi leader, daftar harga, brosur manfaat produk, marketing plan, dan semuanya bisa disimpan dalam leptop. Nggak perlu bawa sekoper alat tempur.

Landing page, ada di internet. Tinggal tekan CONNECT, langsung bisa sebar landing page di media sosial, chat, email dan banyak lagi.

Semua ada di leptop dan koneksi internet.

Itu saja.

Tak harus keluar rumah. Tak harus 18 jam ada di luar rumah. Tak harus berpakaian rapi dan berdasi. Tak perlu lagi melakukan pencitraan semu dengan mobil kreditan atau mobil pinjam orang tua dan diklaim hasil bisnis MLM. Hanya untuk meyakinkan calon prospek. Dan calon prospek yang deal join, hal pertama yang akan diajarkan selain company profile, product knowledge, business plan, PASTI dia akan diajarkan HOW TO DO PRESENTATION.

Pada How To Do Presentation ini, salah satunya dipenuhi cara menyampaikan manfaat produk, cara menyampaikan company profile, cara bikin orang kepingin punya penghasilan banyak saat menyampaikan business plan. Pastinya banyak tips & trik bagaimana meyakinkan calon prospek.

Di era internet, alias JAMAN NOW ini... ACTION itu bisa anda lakukan di sudut rumah anda, sambil pakai singlet dan kolor, sambil minum kopi, anda bisa actions di depan leptop saja.

Di era 90an, seorang member MLM disebut bisa presentasi, ketika ia bisa bisa menyampaikan informasi bisnis dengan baik, ketika ia bisa mengatur intonasi suara dan mengatur ekspresi sehingga menyenangkan. Maka di jaman now ini, anda tak butuh itu. Anda hanya butuh cara berkomunikasi online dengan baik. Anda manyun pun, kalau bisa bikin konten yang menarik bagi orang, maka anda sudah bisa presentasi.

Perbedaan makna, perbedaan pola dan perbedaan jaman inilah yang harus kita terima. Sehingga tidak akan ada lagi komentar di status facebook:

  1. Halah...kamu katanya bisnis kok fesbukan aja..
  2. Bisnis itu dilakukan, bukan hanya dishare di fesbuk aja...
  3. Katanya bisnis, kok di rumah aja...
  4. Omong kosong, kamu aja gak pernah keluar rumah... gimana bisa sukses...
  5. Bisnis MLM itu harus ACTION, jangan diam di rumah aja mainan leptop...
  6. (dan komentar-komentar sejenis, yang kerasa lucu... seperti debat ringan di status rekan saya di atas)
Pola-nya sudah berbeda, maka metode ACTIONnya pun pasti berbeda.

Orang purba yang menutup diri dari perubahan, ia akan tetap menyalakan api dengan menggesek 2 kayu kering hingga keluar api. Padahal teknologi kompor gas sudah ada.

Orang era pra-internet yang suka keliling-keliling mrospek, ketemu hanya 1-3 orang / hari...kemudian ia tertutup dari perubahan. Maka ia akan tetap kehujanan, kepanasan, keluar biaya banyak untuk penampilan, BBM motor/mobilnya, keluar pulsa buat telepon janjian ketemu. Padahal teknologi komunikasi sangat memungkinkan dengan sekali tekan enter, online sales letter atau landing page, tersebar dibaca ratusan bahkan ribuan orang calon prospek per hari.

Nah. Sekarang ada di jaman manakah anda?

Selamat mencoba berbisnis dengan internet, pakai kolor dan singlet di rumah, sepulang anda bekerja.

Sekian share dari saya kali ini. Silahkan kunjungi www.usaha.club jika anda ingin berbisnis online secara efektif dan efisien.

Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.



Thursday, May 17, 2018

Dunia Ini Berubah Tiap Detik, Masihkah Kita Diam Saja?


Dunia ini berubah terus. Tahun sekarang, sudah tak sama dengan tahun kemarin. Tiap bulan dunia mengalami perubahan. Tiap hari hidup terus berubah. Bahkan perubahan itu terjadi tiap detik. Tak terbendung. Tak terhalangi. Perubahan terjadi dan terus terjadi seiring dengan detak jarum jam yang terus memutar waktu.

Kenyataannya Hidup Ini Memang Berubah

Kita sadari atau tidak, kita akui atau tidak, mau atau tidak mau... perubahan itu benar-benar terjadi.

13 tahun lalu raksasa internet itu bernama Yahoo, kini terganti Google. 13 tahun silam, koran dan majalah menjadi media informasi ter-efektif, disamping televisi. Namun hari ini, diganti YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, Linkedin dan masih banyak lagi media internet yang jauh lebih mudah, lebih murah dan lebih dipercaya masyarakat.

13 tahun silam, kata "investasi" masih terasa angker. Dunia investasi seakan hanya terjamah oleh tangan konglomerat dan orang kaya kaliber dunia. Kenyataan hari ini, semua orang bisa membeli reksadana dengan uang Rp. 100.000. Dan kita tahu bersama, uang Rp. 100.000 hampir dipunyai oleh semua masyarakat kelas bawah kita.

13 tahun lalu, symbiannya Nokia merajai pasar ponsel hampir di seluruh dunia. Kemudian tergantikan Blackberry, meski kemudian keduanya tumbang tergilas Android. Kini Symbian nyaris menjadi kenangan dunia komunikasi.

13 tahun lalu, orang bangga belanja ke Matahari, Carefour, Hypermart, Giant, Ramayana, Hero dan lain sebagainya. Karena mereka adalah penguasa bisnis retail. Namun sekarang orang lebih bangga dan merasa lebih efektif/efisien belanja ke Bukalapak, Shopee, Tokopedia, Blibli, dan lain sebaganya.

13 tahun silam, mungkin anda malu bilang ke teman kuliah anda, bahwa ayah anda juga kerja jadi ojek selepas pulang kantor. Profesi ojek dipandang remeh dan tidak terhormat. Namun kini, tukang ojek banyak yang sarjana, bahkan lulusan pascasarjana. Dan mereka dengan bangganya mengantarkan penumpang-penumpangnya. Sebab ojek sekarang pakai aplikasi online, canggih dan profesional. Sudah jauh dari kesan kumuhnya sudut stasiun kereta atau kumalnya pojokan terminal bis.

Mau Berubahkah Kita?

Fakta-fakta perubahan tersebut, sebut saja cara saya menggambarkan betapa hidup ini dinamis. Namun ironisnya, kemalasan dalam diri kita selalu sangat kuat mengajak kita untuk statis. Diam seribu aksi. Bukan hanya diam seribu bahasa.

Fakta kejayaan masa silam yang kini tinggal kenangan, sangat mungkin disebabkan oleh ketidak mampuan untuk berubah mengikuti irama dinamika jaman.

Kadang saya berpikir: dinosaurus punah, mungkin karena mereka tak mau berubah. Sama halnya fakta-fakta di atas.

Di sekitar kita pun pasti banyak perubahan. Bahkan diri kita sendiri, disadari atau tidak, telah berubah.

Mungkin dulu jaya, sekarang terpuruk. Atau sebaliknya, dulu terpuruk sekarang jaya.

Saya masih meyakini bahwa Alloh tak akan mengubah suatu kaum, sampai kaum itu mengubah dirinya sendiri. Artinya memang Alloh yang menentukan segala perubahan di dunia ini, namun adanya hukum sebab-akibat, sehingga Alloh menjamin akan mengubah nasib kita, asal kita berkemauan mengubah keadaan kita.

Sebab-akibat. Itu tak bisa dihilangkan. Untuk sukses, harus ada ikhtiar yang mengantar kita sampai di puncak sukses. Ikhtiar itu menjadi sebab, dan sukses itu adalah salah satu akibat dari ikhtiar kita.

Kita tak mungkin ada di dunia ini, bila ayah-ibu kita tak melakukan sedikitpun ikhtiar yang berakibat lahirnya kita ke dunia ini. Kita kecil, tak mungkin berubah menjadi sedewasa sekarang, tanpa ada ikhtiar orang tua kita membesarkan kita. Mungkin dulu kita kecil mengalami sakit parah, ayah-ibu kita melakukan ikhtiar atas kesembuhan kita. Jika tiada ikhtiar ayah-ibu kita, mungkin kita tak sampai sebesar dan sesehat sekarang.

Kalau saya blak-blakan, saya miris melihat stagnasi yang beberapa kali terjadi pada diri saya. Stagnan. Seakan dunia menjadi beku dan kaku. Namun saya sendiri telah membuktikan, dari sekian stagnasi yang terjadi, upaya keras untuk memperbaiki (tentu atas izin Alloh), stagnasi itu pun pecah. Perubahan kemudian terjadi. Dan begitu terus.

Dulu pernah saya bekerja, sangat enjoy. Namun keadaan berkata lain. Perusahaan bangkrut, dan saya harus kehilangan pekerjaan. Stagnasi pun terjadi. Kebekuan dan kepenatan menghinggapi.

Bukan hanya sekali, namun itu berkali-kali.

Maka sekarang, mumpung stagnasi dan keterpurukan belum terjadi pada kita, saya mengajak diri saya sendiri dan anda semua: mari kita terus belajar dan terus memperbaiki (artinya mengubah yang tak baik menjadi baik, mengubah yang baik menjadi lebih baik) atas keadaan kita sekarang.

Jika saya renungkan, satu hal yang terpenting adalah: terbuka terhadap informasi baru yang positif, terbuka menerima perubahan dunia, mengubah diri kita menyesuaikan, agar keterpurukan tak terjadi lagi.

Bila sampai hari ini kita tidak terbuka terhadap informasi dan perubahan, saya khawatir: 13 tahun yang akan datang, kita hanyalah orang-orang yang merugi, karena terlindas bahkan tersingkir oleh perubahan dunia.

Dunia yang terus berubah, pasti tak akan berhenti. Dunia terus berubah. Meski kita bersihkeras tidak ikut berubah.

BAYANGKAN, dulu anda komunikasi dengan teman anda yang jauh, dengan berkirim surat via kantor pos. Kemudian dunia komunikasi sudah berubah, sedang anda bersihkeras tidak mau mengikuti perubahan. Teman-teman anda sudah komunikasi via email, via whatsapp, via media sosial, sedang anda masih bersihkeras tidak memakai teknologi komunikasi yang kita mutahir. APAKAH anda tidak tergilas dan tersingkirkan dari dunia ini?

Mungkin anda akan menjadi manusia kesunyian, dan lama-kelamaan akan hilang.

Bahkan jika kita yang sekarang bekerja di Bank. Kemudian kita bersihkukuh tak mengikuti perkembangan dunia... sangat mungkin 10 tahun ke depan, bank akan mengalami metamorfosa, dan anda akan tertinggal. Sebab transaksi sudah terganti oleh Alipay, Paypal, & PayTren.

Berubah itu tak salah. Berubah itu harus. Agar kita tidak punah, kita harus berubah.

Sekian catatan saya kali ini. Semoga bisa membantu diri saya sendiri dan anda untuk merenung, memahami, kemudian berubah menjadi lebih baik.

Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.



Wednesday, May 16, 2018

Ngeblog Nggak Harus Neko-neko


Alhamdulillah. Malam 1 Ramadhan, pukul 01:02 dini hari, saya masih bisa posting. Masih dikaruniai waktu dan kemampuan untuk mengutarakan yang ada dalam otak dan hati saya.

Sebenarnya ngeblog itu simple. Ya, blogging itu sederhana. Apa yang ada dalam pikiran kita, kita tuang dalam bentuk konten. Apa yang ada dalam hati kita, kita tuang menjadi postingan-postingan. Deretan nge-post dalam suatu sistem ini, sering disebut blogging alias ngeblog.

Ngeblog nggak perlu neko-neko sih.

Apakah ada regulasi yang melarang kita neko-neko? Tidak. Tidak ada.

Berarti boleh dong? Boleh saja sih. Namun menurut saya (dan untuk saya) itu tidak harus.

Sama halnya anda berpakaian biasa seperti anda sehari-hari. Kemudian anda pakai rompi dari karung. Apakah ada regulasi yang melarang anda pakai rompi dari karung bekas gula? Hahaha... Ya nggak ada yang ngelarang lah.

Ngeblog Nggak Harus Neko-neko. Itu menurut pandangan saya. Ya, ngeblog itu apa adanya saja. Apa adanya itu, yang kecil nggak usah dibikin gede, yang gede nggak perlu dikecil-kecilkan, yang tak ada tak harus diada-adakan, dan yang tiada nggak harus dipaksakan ada.

Lantas, apa sih blogging? 

Blogging itu bukan suatu yang hebat, sebenarnya. Blogging itu sama dengan sama dengan swimming, sama dengan jogging, atau sama dengan ngi**ing (baca: buang air besar). Mudah. Ibarat berenang, asal bisa mengapung dan bergerak, sudah bisa disebut berenang. Ibarat jogging, asal bisa berlari kecil, sudah bisa disebut jogging. Nggak ada istimewanya. Dan mudah. Seperti saya posting sebelumnya https://www.adib.club/2018/04/percayalah-bikin-blog-itu-sangat-mudah.html

Lantas yang istimewa apanya? Bagi saya, yang istimewa dari blogger adalah konten, bukan blogging-nya.

Terus, apa sih neko-neko?

Dalam kamus Bahasa Indonesia, neko neko/ne·ko ne·ko/ /néko néko/ Jw adv (berbuat yang) aneh-aneh (macam-macam dan sebagainya): selain dikenal karena kesederhanaannya, ia juga tidak pernah bersikap --

Artinya dalam tampilan dan wujud tampak indra, biasa saja apa adanya. Jadi blogging tak perlu berbuat yang aneh-aneh dan macam-macam yang tak penting. Itu menurut saya.

Bagaimana kalau ada yang ngeblog dengan neko-neko. Ya silahkan saja. Bebas saja. Mungkin bagi beberapa orang, neko-neko itu stylish. Tingkah-polah macam-macam itu keren. Ya monggo saja..

Kualitas Konten Lebih Penting

Nah, di sinilah sebuah blog disebut bagus atau tidak, berkualitas atau tidak, seksi atau tidak, eksotis atau tidak. Konten.

Dalam postingan saya sebelumnya, bahwa saya sekarang ini sedang belajar sukses blogging https://www.adib.club/2018/04/saya-sedang-belajar-cara-sukses-dengan.html dengan cara (salah satunya) belajar membuat konten berkualitas. Meskipun, sampai posting saya yang satu ini, saya belum bisa membuat konten berkualitas dunia.

Daripada neko-neko, lebih penting saya belajar membuat konten positif, bermanfaat dan berkualitas.

Akhirnya saya pun membaca-baca. Bagaimana sih konten situs yang berkualitas?

Saya temukan bahwa sebenarnya bagus tidaknya sebuah konten pun tergantung siapa yang menilainya. Bener juga sih. Tergantung siapa (dengan sepenuh pengalaman dan kapasitas) yang menilainya.

Bagi seorang ABG yang sedang dirundung rindu dan dimabuk asmara, tentu konten blog saya ini sangatlah kacau dan tidak penting.

Bagi seorang yang punya perhatian dan ketertarikan terhadap konten-konten islami, tentu situs judi online bukanlah suatu yang bagus bagi dia.

Bagi seorang yang suka olah raga, tentu konten terbaik adalah yang membahas dan mengupas habis soal olah raga.

Namun untuk saat ini, tolok ukur bagus tidaknya sebuah konten blog secara umum, (sepertinya) ada di tangan google. Bukan di tangan tetangga anda.

Okay, mari kita intip sejenak. Apa sih yang google mau nih?

Saya menemukan ini: https://support.google.com/webmasters/answer/40349?hl=id

Silahkan anda intip link tersebut jika anda juga penasaran, seperti saya.

Poin-poin yang saya catat dalam otak saya adalah 2 hal berikut ini:

  1. Jadikan situs Anda menarik dan bermanfaat
  2. Ketahui konten yang diinginkan pembaca (dan sajikan kepada mereka)
Keduanya sangat mudah dibaca, sangat mudah dimengerti. Namun ternyata, saudara... TAK MUDAH DITERAPKAN. Hehe...

Namun serumit apapun itu, saya yakin kita bisa. Meskipun itu pasti butuh proses. Proses berpikir, belajar dan menerapkan. Juga butuh waktu. Sebab untuk menulis sebuah konten bagus, tak bisa serta-merta sim salabim abracadabra... JADI..! Tidak. 

Selamat mencoba. Saya juga mencoba. 

Baiklah, sudah mendekati waktu sahur. Saya cukupkan sekian dulu dari saya di awal bulan Ramadhan 1439 H kali ini.

Salam sukses untuk anda. Sukses dunia akhirat. Amin






Thursday, May 10, 2018

Saya Tidak Bisa Menulis Serius, Tapi Saya Pengen Punya Blog


Alhamdulillah...
Saya bisa posting lagi. Sebab dibalik sebuah posting banyak hal yang harus saya syukuri. Diantaranya: saya masih punya waktu untuk berbagi, saya masih bisa berpikir positif, dan saya masih dikaruniai hati yang terpanggil untuk berbagi, dengan harapan untuk kebaikan bersama.

Tujuan berbagi kebaikan itulah tujuan utama saya membuat blog ini, seperti saya sampaikan di deskripsi blog.

Ya...
Barusan ngobrol dengan teman Aliyah (SMA) via WhatsApp.

Biasa lah... obrolan teman lama yang sudah sekian waktu tidak bertemu. Obrolan yang kental dengan nostalgia dan mengenang masa silam. Namun ada satu bahasan singkat yang tak menjadi topik utama, tapi justru itu menginspirasi saya untuk posting ini.

Teman lama yang tidak saling bertemu, dan entah bagaimana awalnya dia bisa menemukan blog saya ini, sebelum menemukan nomer WhatsApp saya, dan akhirnya bisa ngobrol via aplikasi chat tadi itu. Jadi sebelum dia ngobrol dengan saya, terlebih dahulu menemukan blog saya ini.

Entah serius atau sekedar basa-basi, bahwa ia sempat mengutarakan: pengen punya blog, seperti halnya saya, tapi dia tak bisa menulis serius.

Hehehe... saya bilang: Blog Itu Bukan Skripsi atau Disertasi. Kalau blog itu harus berisi tulisan serius, pastilah blogku ini tidak memberitahumu nomer WhatsApp ku.

Bagi saya, agar blog itu kerasa citarasa blog-nya, malah malah dan malah... harus personal banget, harus se-apa adanya mungkin, dan tak harus mengungkap kebenaran ilmiah akademik.

Intan Dalam Lumpur, Tetaplah Intan

Intan dalam bejana megah, ia tetap intan. Intan dalam lumpur, tetaplah intan. Karena pada hakikatnya, kebenaran yang disajikan dalam bentuk apapun, tetaplah kebenaran. Kebaikan disajikan dengan cara tegas atau dengan cara humor, tetaplah kebaikan.

Kebenaran hakiki yang disampaikan secara personal, akan tetap kebenaran. Personalisasi ini saya pikir bisa berbentuk cara penyajian. Artinya bila seorang yang serius, maka ia cenderung menyampaikan kebenaran secara serius. Bila seorang humoris, tentu lebih suka menyampaikan kebenaran dalam ungkapan-ungkapan jenaka.

Personalisasi juga bisa bermaksud bentuk reformulasi. Kebenaran mutlak ilahiyah, yang disampaikan oleh seseorang, tentu berbeda dengan yang disampaikan orang lainnya. Artinya kebenaran mutlak ilahiyah yang tersampaikan dalam kitab suci, diserap oleh akal dan hati seseorang yang berbeda, yang disampaikan orang-per-orang (sedikit atau banyak, disadari atau tidak) akan bercampur dengan segala hal yang melingkupi individu bersangkutan.

Setiap individu itu dasar fitrahnya adalah unik, berbeda satu dengan lainnya. Sekaligus setiap individu itu kompleks, artinya banyak hal yang turut membentuk ke-khas-an tiap orang.

Ada banyak hal yang menentukan khas setiap individu. Kecerdasan otaknya, sensitifitas rasanya dalam menerima keindahan dan kebenaran, pengalaman hidupnya yang tak sama, karakter yang berbeda, dan (mungkin juga termasuk) kepentingan yang berbeda. Dari kepentingan sosial, kepentingan ekonomi, sampai kepentingan politis yang berbeda.

Akhirnya personalisasi kebenaran mutlak ilahiyah yang tersampaikan oleh satu individu tertentu, dan selintas berbeda dengan individu lain, kerap disebut kebenaran personal. Bukan lagi kebenaran ilahiyah.

Itu jika kita bicara kebenaran ilahiyah.

Sama halnya bila kita bicara kebenaran ilmiah. Sebuah kebenaran ilmiah akademik, yang diserap seorang individu dengan karakter dan kapasitas yang berbeda, maka kebenaran ilmiah itu pun berpotensi disampaikan dengan cara yang berbeda pula. Bahkan selintas akan menjadi kebenaran ilmiah yang berbeda. Singkat kata pun, disebut kebenaran personal juga.

Sampai saat ini, saya masih meyakini bahwa semua kebenaran dan kebaikan yang ada di muka bumi ini, yang ada sejak Nabi Adam dulu, hingga akhir zaman nanti, semuanya bersumber dari Ilahi. Artinya semuanya berasal dari Alloh. Wa'allamal asma'a kullaha, dan Alloh mengajarkan nama-nama atas semua yang ada di muka bumi ini pada Adam. Dimana nama-nama itu adalah komponen bahasa. Nama benda, nama rasa, nama waktu, nama segalanya yang terangkai dalam sebuah bangunan makna, ia akan menjadi sebuah bahasa.

Ibarat air. Awal mula sumber air tetaplah air jernih. Di tangan yang berbeda, air itu bisa menjadi secangkir kopi hitam (karena bercampur dengan kopi + gula), di tangan lainnya bisa menjadi segelas teh (karena dicampur dengan daun teh), pun dalam kesempatan yang berbeda air akan menjadi zat pembersih, air juga menjadi komponen utama kehidupan yang digunakan dengan cara yang berbeda antara manusia-manusia di satu belahan dunia dengan manusia di belahan dunia lain, dan lain sebagainya...dan lain sebagainya. Bahkan antara satu orang dengan lainnya, cara bikin kopi nya juga berbeda, bahan kopinya berbeda, sehingga menghasilkan rasa kopi dan khasiat kopi yang berbeda pula.

Nah...
Kebenaran atau kebaikan yang disampaikan dengan cara yang berbeda pun... pada hakikatnya tetaplah kebenaran, tetaplah kebaikan.

Blog Harus Personal Banget

Saya pikir: kebenaran personal dan opini-opini singkat akan membuat blog itu kerasa lebih seksi.

Untuk anda dan siapa saja yang membaca posting saya kali ini. Khususnya buat teman saya yang telah mengisnpirasi saya hingga saya menulis ini, saya sampaikan pendapat saya bahwa: blog tak harus serius. Anda dan saya bebas berekspresi, dalam batasan tata aturan yang berlaku tentunya.

Bukan berarti semakin tidak serius, sebuah blog makin bagus. Tidak bisa begitu juga. Namun blog harus personal banget.

Personal yang saya maksud di sini bukan bermakna: privacy, atau kerahasiaan pribadi yang harus ditutup dan dilindungi dari intervensi publik. Namun yang saya maksud adalah cara penyajian yang berkarakter anda. Ya, cara penyampaian yang anda banget, yang gue banget, yang dengan gaya gue banget, gaya anda banget. Namun apa yang disampaikan dalam blog, yaaa...seperti ibarat saya di atas... tetaplah kebaikan atau kebenaran.

Kebenaran bisa bermakna segala yang berbentuk kaidah dan akidah.

Kebaikan bisa bermakna segala yang punya nilai luhur bagi agama, norma dan anda. Ya. kebaikan menurut anda.

Meski tidak selalu kebenaran dan kebaikan. Orang sebenarnya bebas saja mau blogging soal apa. Mau mempublikasikan perihal hobby atau segala yang menjadi daya tarik pribadi, hal yang ditekuni dan hal yang dikuasai.

Jadi bebas saja. Anda bisa menulis dalam bahasa yang sesuai aturan baku penulisan bahasa Indonesia, atau... anda bisa juga menulis tidak sesuai aturan. Apapun bisa anda posting dalam blog anda. Apapun bisa jadi muatan blog anda.

Di situlah justru sebuah blog akan nampak seksi. Menurut pandangan saya, begitu.

Sekian share dari saya kali ini. Semoga ini menginspirasi siapapun untuk berbagi kebaikan dengan blogging.

Silahkan simak pula posting saya lainnya, curhat tentang bloging:
  1. Percayalah, Bikin Blog Itu Sangat Mudah
  2. Saya Sedang Belajar: Cara Sukses Dengan Blog
Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

Wednesday, May 9, 2018

Ramadhan 1439 H, Hari-hari Yang Dinanti


InsyaAlloh tanggal 1 Ramadhan 1439 bertepatan tanggal 17 Mei 2018.

Bagi seluruh umat islam, pasti hari ini adalah istimewa. Hari-hari di bulan ramadhan. Sebab di bulan ini, ada keindahan di hati yang tak terdefinisikan dalam kata-kata biasa.

Keindahan yang saya maksud, mungkin rada mirip dengan perasaan saya waktu kecil dulu, menunggu aba (ayah) saya pulang.

Ayah saya seorang PNS Depag, masa orde baru. Di awal tahun 80an, ayah saya diangkat menjadi PNS. Seperti kita tahu bersama, PNS jaman dulu dan PNS jaman sekarang, tidaklah sama.

Pengangkatan PNS pada masa itu nggak langsung dinas enak di kantor dekat rumah dan keluarga. Namun ditugaskan dulu di tempat yang jauuuh. Waktu itu aba di tugaskan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Saya masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, sederajat SD.

Ayah saya kalau pulang ke Lamongan Jawa Timur, 1-2 bulan sekali. Rasanya kangen. Meski saya pada saat itu nggak tahu bahwa itu perasaan kangen. Yang saya tahu dan saya rasakan, saya suka membaca surat dari aba, yang dikirim untuk saya, tertulis nama saya. Seneng banget. Kadang saking senengnya sampai nangis saya membacanya. Apalagi kalau ada kabar tanggal sekian bulan depan, aba pulang. Itu kalender di rumah saya lingkari di tanggal itu. Semakin dekat dengan tanggal itu, saya suka melihat kalender, saya suka membaca lagi surat-surat dari aba (almarhum). Saya juga baca lagi majalah MPA (majalahnya PNS Depag waktu itu) yang selalu dibawa aba kalau pulang. Suka melihat foto aba.

Kangen menunggu kedatangan aba saya pulang kampung pada saat saya masih kecil itu, rasanya ada kemiripan dengan menunggu datangnya ramadhan. Meskipun tak sama. Tapi rasa-rasanya ada kemiripan pola dalam perasaan ini.

Ramadhan itu istimewa. Mungkin karena itu, kerinduan di hati ini pun kerasa istimewa juga. Tak sama dengan kerinduan-kerinduan di hati saya terhadap hal lain. Satu-satunya kerinduan itu mirip dengan kerinduan di hati saya kecil dulu, menunggu aba pulang kampung. Meski berbeda, namun yang menyerupai pola-kerinduannya ya hanya itu.

Saya punya kerinduan pada keluarga, kangen anak-istri kalau nggak ketemu dalam waktu lama, kangen sahabat-sahabat, namun semua itu kerinduan yang berbeda.

Beberapa posting saya sebelumnya, yang saya tulis di saat-saat mendekati bulan soal ramadhan 1439 H ini:

  1. Ramadhan Saat Tepat Memulai Bisnis
  2. Ramadhan Momen Terbaik Sukses Bisnis Kuliner
Sengaja saya tidak mengupas tentang agama (aqidah, syariah, muamalah, atau soal berbuka puasa). Sebab saya yang dhoif ini merasa kurang punya pisau-ilmu yang cukup untuk mengupasnya. Biarlah itu menjadi tugas Ustadz Abdul Somad dan ulama lainnya.

Mari saudara-saudara muslim, kita sama-sama bersiap menyambut Bulan Ramadhan 1439 H ini dengan lebih baik. Lebih baik dari persiapan kita tahun sebelumnya.

Sekian dulu curhat saya. Salam sukses untuk anda semua, sejahtera bersama keluarga.