Friday, April 6, 2018

Ubah Kondisi Dengan Mengubah Diri Sendiri

Saya termasuk orang yang suka join di group whatsapp tematik, tanpa peduli apakah itu group beranggotakan orang-orang yang saya kenal sebelumnya atau tidak. Saya join, saya menyimak, dan bila cocok dengan diri saya, pasti saya juga ikut nimbrung diskusi dan saling berbagi informasi dan pengalaman positif. Namun bila saya tidak cocok, kerap saya langsung left.

Tadi pagi saya sempatkan untuk menyimak obrolan-obrolan di setiap group whatsapp saya. Saya mendapati video ini dari salah satu group saya.



Entah kenapa, video ini menyentuh hati saya. Materi-nya, bisa jadi kita sudah pernah mengkaji atau mengaji, jauh-jauh hari sebelum anda menonton video ini. Namun saat hati kita dibuka dan menerima kebenaran, siapapun yang berkata pada kita dan kapanpun kita mendengarnya, niscaya hati ini membenarkannya. Mungkin kita akan bilang dalam hati: Ya. Bener banget. 

Berikut script video, yang bisa kita sama-sama renungkan.

Sahabat, ketika kita bicara istiqomah...
Direndahkan tidak mungkin jadi sampah...
disanjung tidak mungkin jadi rembulan..

maka jangan risaukan omongan orang..
sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman berbeda...
teruslah melangkah selama engkau di jalan yang benar...
meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai..

Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang dirimu...
sebab yang menyukaimu tidak butuh itu...
Dan yang membencimu tidak percaya itu...

Sahabat...
hidup itu bukan tentang siapa yang terbaik...
tapi tentang siapa yang mau berbuat baik...

Jika didzolimi orang jangan berpikir untuk membalas dendam...
tapi berpikirlah cara membalas dengan kebaikan...
Karena Rabb kita Maha Baik.

dan tanamkan agar orang lain juga mendapatkan kebaikan sebagaimana yang kita peroleh dari Yang Maha Baik...

Sahabat...
jangan mengeluh...
tapi teruslah berdoa...
dan bersyukur dan bersabar serta istiqomah...
sibukkan diri dalam kebaikan...
hingga keburukan lelah mengikuti kita...
sehingga mengucapkan selamat tinggal...

mungkin orang tak beriman berkata...sabar itu ada batasnya...
sering kita dengar...
tapi tidak bagi orang yang beriman...
sabar itu tanpa batas...
bahkan sebagai pelengkap keimanan...
Jadi...
sabar itu menerima dahulu kehadiran tamu mulia yang bernama masalah...
sebelum kita melepaskannya...

sebab kita toh...
tak akan mudah melepas sesuatu yang belum kita terima...
masalah itu akan mudah berpamitan. 
bila sudah kita jamu dengan bersabar serta bersyukur...
dan istiqomah...

syukur itu bukan berapa sedikit yang kita terima.
istiqomah itu bukan seberapa lama kita siap menderita..
sabar itu bukan seberapa lama kita menunggu..
seberapa berat kita ditekan..
seberapa pahit kita diuji...

Tapi...
seberapa hebat tekanan itu mampu mengasah kita meng-create gagasan dan keterampilan diri. untuk lepas dari tekanan tersebut...
dan di saat itu pula kita berhasil menemukan kebahagiaan.

laksana cahaya di ujung terowongan yang gelap...

Sahabat...
yang akhirnya yang menerangi kebahagiaan hakiki yang tidak akan diperoleh kecuali mereka yang mendapat rahmat Alloh azza wajalla.

mudah-mudahan Alloh selalu memberi kebahagiaan kepada sahabat-sahabat yang selalu istiqomah di jalannya... aminn

ustz. Yayat Rukhiat


Mungkin kita sedang galau. Sedang susah. Sedang panik. Sedang risau. Dalam kerumitan problema hidup. Dan menginginkan adanya perubahan ke arah positif, perubahan kondisi menjadi baik atau menjadi lebih baik lagi. Maka mari kita ubah dulu diri kita, saat kita menginginkan adanya perubahan dalam hidup kita, Ubah Kondisi Dengan Mengubah Diri Sendiri, agar kondisi kita berubah.

Perubahan itu diawali dari diri kita sendiri. Ya. Awali dengan mengubah kebiasaan buruk, pelan-pelan, menjadi kebiasaan baik. Awali dengan mengubah pemahaman kita atas: masalah, sabar, syukur dan istiqomah. Awali dengan memperbaiki pemahaman, untuk memperbaiki sikap dan kebiasaan. Agar kebiasaan positif itu menjelma menjadi karakter positif kita.

Dengan kita sudah berubah berkarakter lebih positif dari sekarang, pasti hidup kita juga berubah positif.

Mungkin kita sedang depresi, sebab mulut orang yang membenci atau iri pada kita. Awal yang harus kita ubah, tetaplah DIRI KITA terlebih dahulu.

Sehebat apapun mulut orang yang benci dan iri pada kita berkoar-koar, kita tetaplah kita. Direndahkan (di belakang kita) tak mungkin kita jadi sampah. Disanjung (di muka kita), tak mungkin berubah jadi rembulan.

Sebab setiap orang yang melihat dan menilai kita, sebatas pemahaman dan pengalaman mereka. Kalau pemahaman dan pengalaman mereka adalah sebatas "pemahaman IQ jongkok", mereka akan menilai dan menganggap kita setara dengan jongkok-nya IQ mereka. Biar saja, kita tak perlu risau itu.

Teruskan langkah positif kita dalam menjalani hidup kita. Asal kita benar, jangan terhenti oleh mulut yang salah.

Karena kerap kebaikan tidak selalu dihargai. Dan prestasi tidak selalu dikagumi.

Memang benar bahwa, kita tak perlu menghabiskan energi untuk menjelaskan sebenarnya diri kita, sebenarnya langkah kita dan pemikiran kita aslinya bagaimana. Tak perlu. Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang diri kita. Sebab orang-orang yang cinta dan menyukai kita tidak butuh dijelaskan siapa dan apa aktifitas kita. Dan yang benci, iri dan dengki pada kita TIDAK AKAN PERCAYA apapun penjelasan kita.

Perubahan positif pada diri kitalah yang akan mengubah kondisi kita. Perubahan akan pemahaman yang lebih baik. Perubahan sikap yang lebih baik. Perubahan diri kita yang menjadi lebih istiqomah, menjadi lebih sabar dan menjadi lebih syukur. Itu akan mengubah kondisi.

Termasuk perubahan lebih baik pada diri kita dalam hal mendefinisikan apa itu sabar yang hakiki, syukur yang hakiki dan istiqomah yang hakiki.

Sungguh, video yang pendek itu sangat menyentuh hati saya. Memang benar. Dan hati saya tidak bisa mengatakan itu salah, pada sesuatu yang benar.

Sekian share dari saya kali ini. Salam sukses, lebih istiqomah, lebih syukur dan lebih sabar.

No comments:

Post a Comment