Monday, February 12, 2018

Uang Itu Sangat Relatif, Tahu Kenapa?



Setelah saya mengamati betul. Ternyata nilai Uang Itu Sangat Relatif.

Tadi malam, saya ingin menyampaikan pengalaman dan pengamatan saya ini dalam status facebook. Saya ingin menyampaikannya pendek saja. Namun tak terasa, setelah status saya posting, ternyata panjang juga. Akhirnya saya putuskan untuk share di site saya ini saja.

Sama dengan posting-posting saya sebelumnya, misi dan tujuan saya tetaplah sama seperti yang saya tuang di http://www.adib.club/p/tentang-adib.html yakni: Berbagi cerita hidup untuk kebaikan bersama. Berbagi kebaikan untuk cerita bersama. Bersama menceritakan kebaikan hidup. Bersama membaikkan cerita hidup.

Selain pengalaman sales-hard, door-to-door, di Surabaya, Malang, Yogyakarta.. Sampai di Banjar Jawa Barat saya pernah jualan ikan-laut-segar keliling.

Sebelum bekerja di salah satu developer perumahan di Ciamis ini, saya sempat wirausaha jual ikan laut keliling. Dari perumahan yang satu ke perumahan yang lain, masih di wilayah Kota Banjar, Bagian timur wilayah Ciamis dan sedikit wilayah Jawa Tengah bagian barat, berbatasan dengan Kota Banjar Jawa Barat.

Tak kenal gengsi. Tak ada malu. Saya tanggalkan gelar sarjana yang menempel pada diri saya. Berikhtiar dengan berbaju kumal dan bau amis. Saya beli ikan di pesisir Pangandaran atau seputaran Pelabuhan Ikan Cilacap. Kemudian pagi hari, saya bungkus mulai 2 ons, 0,25 kg, 0,5 kg sampai 1 kg per kemasan, dari berbagai macam hasil laut (udang, cumi-cumi, ikan-ikan, kepiting dan lainnya). Saya keliling tiap hari bertemu dengan berbagai macam orang, berbagai macam suku, berbagai macam profesi dan berbagai level ekonomi. Dan itu berjalan lebih dari 2 tahun.

Saya banyak diremehkan orang, dicibir, direndahkan, dan berkawan dengan kalangan low-end dalam hal formal-akademik, namun saya bisa enjoy, menikmati dan SAYA TETAP BELAJAR banyak pada mereka. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari hidup mereka dan saya belajar pada mereka dalam banyak hal. Meski saya harus berhenti karena suatu sebab irrasional.

Langganan saya tidak banyak, hanya dari 6 - 12 perumahan dan beberapa kampung-kampung, yang saya bagi 2: sehari ke 6 perumahan dan beberapa kampung, esok harinya ke perumahan dan kampung lain. Saya gilir begitu. Kurang lebih yaa... 2 hari sekali saya bertemu dengan langganan-langganan saya. Sebagian besar ibu-ibu. Meskipun ada juga bapak-bapak yang ikan laut mania.

Tahukah anda, dari ikan yang saya jual setiap hari, saya belajar dan membuktikan langsung teori ekonomi tentang SUPPLY & DEMAND, tentang fluktuasi nilai rupiah terhadap hasil tangkapan ikan, dan tentang nilai uang yang SANGAT RELATIF.

Salah satu yang saya jual adalah cumi-cumi segar. Suatu waktu saya pernah menjual sebungkus cumi-cumi segar, Rp. 15.000 / bungkus (2,5 ons).

Tahukah anda, ternyata dengan orang yang berbeda, dari perumahan yang berbeda, dan dari kalangan profesi yang berbeda: cumi-cumi saya ternyata mahal (mungkin dia bandingkan dengan tempe yang sebatang Rp. 2.000, jadi dengan uang Rp. 15.000 dia bisa dapat 7 batang tempe.), sekaligus bagi yang lain bilang dagangan saya sangat murah (karena saya tahu jika dibandingkan dengan toserba langganan dia, dagangan saya lebih segar dan lebih murah hingga 50%).

Padahal kualitas cumi-cumi yang saya bawa sama segarnya lho.., saya bawa keliling dengan cool-box yang saya beri es, sehingga suhu bisa dipertahankan di bawah 16 derajat celcius. Sehingga kesegaran dan kualitas tetap sama walaupun sampai ke mereka selisih 1-3 jam pun. Kemasan sama. Berat timbangan sama. Harga sama-sama 15.000.

Langganan yang bilang mahal, beli cuma sebungkus nawarnya lamaaaaa..., tapi ya tetep beli.
Langganan yang bilang murah, ada yang belinya nggak keluar pagar rumahnya, nggak pakai pilah-pilih, nggak pakai mengacak-acak dagangan saya, beli 4 - 6 bungkus nggak pakai komentar langsung ngasih uang, plus "ngancam" kalau lusa harus lewat di depan rumah dia dan harus sms dulu kalau ada cumi-cumi.

Kenapa Berbeda Ungkapan?

Kenapa sampai muncul ungkapan berbeda antar sekian orang. Satu orang bilang MAHAL. Orang lainnya bilang SANGAT MURAH.

Di situlah letak adanya RELATIFITAS NILAI UANG. Bukti bahwa nilai uang itu relatif.

Karena itulah, sebaiknya jangan bilang 15.000 itu sedikit. Karena ada beberapa kalangan yang menganggap 15.000 itu sangat besar. Demikian pula SEBALIKNYA Jangan pula memutlakkan bahwa 15.000 itu besar, karena ada orang lain yang menganggap itu nilai sangat kecil.

Relatif Itu Juga Berlaku Pada Pengeluaran (Belanja) & Pemasukan (Income)

Orang berpenghasilan di atas 7 juta/bulan, beranggapan pengeluaran 15.000 untuk 0,25 kg cumi-cumi itu nilai sangatlah kecil. Dibanding dengan kenikmatan melahap cumi-cumi segar (bukan asinan).

Orang berpenghasilan di bawah UMR, pastilah beranggapan pengeluaran 15.000 untuk lauk sekali makan bersama keluarga itu sangat besar.

Pelajaran dari pengalaman nyata saya tersebut, hal PENGELUARAN. Namun itu pasti berlaku pula untuk PEMASUKAN / income / penghasilan.

Sebab pemasukan dan pengeluaran itu seperti dua sisi mata uang. Keduanya ada dalam tiap fase hidup.

Beberapa waktu lalu, saya membaca peluang bisnis, yang bisa dijalankan online maupun offline. Bisa dijalankan di internet maupun di tempat kerja, keluarga dan sekitar kita. Peluang yang saya baca, modal keluar sekali, beli produk 1 box saja seharga 99.000, potensi penghasilan Rp. 1.000.000 / hari.

Saya tertarik, saya cek & recek keabsahan peluang itu, saya cari testimoni-testimoni, benar nggak-nya, dan setelah saya tahu bagus, kemudian saya bergabung dengan membeli 4 box (secara bertahap),

Bagi saya (saat ini), dapat income Rp. 1 juta per hari itu sudah cukup bagus.

Bagi anda mungkin beda. Bisa jadi anda saat ini sudah terbiasa dengan penghasilan Rp. 5 juta / hari. Mungkin anda mencibir saya: AH, SEJUTA SEHARI MAH KECIL MAS...!!

Bagi orang lain yang puluhan tahun kerja berpenghasilan Rp. 60.000 / hari atau setara 1.800.000/bulan, itupun harus peras keringat, kerja berat, dari pagi sampai malam... sehingga ketika mendengar ada bisnis di facebook ini yang bisa berpotensi penghasilan Rp. 1 juta / hari.. pikiran mereka langsung teriak negatif: MASAK KERJA FESBUKAN DAPAT 1 JUTA / HARI ???? JANGAN NGIMPIII MAS...!!!

Makanya saya sebut di atas: UANG ITU SANGAT RELATIF

Karena itulah saya selalu ragu untuk menawarkan pada anda, bahwa PELUANG BISNIS yang saya tawarkan di menu PELUANG USAHA berpotensi penghasilan sekian juta per bulan. Karena bisnis online, sebenarnya fleksibel. Tergantung anda menginginkan berapa, tergantung seberapa keras upaya anda.

Ragunya kenapa?

Saya khawatir jangan-jangan anda saat ini, dari usaha/kerja anda sekarang, anda sudah terbiasa berpenghasilan diatas 30 juta / bulan. Kan jadinya kayak saya nawarin barang mainan pada anda, kalau cuma 5 juta/bulan.

Saya juga khawatir, jangan-jangan mereka yang saya tawari, biasa diberi suami uang belanja 600.000 sebulan, sehingga terbentuk stigma dan persepsi dalam otak mereka bahwa hidup ini susah, mentok-mentoknya penghasilan ya 600.000 saja. Dapat 1.000.000/bulan aja masyaAlloh syukur banget. KEMUDIAN saya tawari bisnis dengan potensi 5 juta / bulan... kan saya jadinya kayak nawarin hayalan.

Potensinya, Terserah Seberapa Hebat Anda Berbisnis

Bisnis online yang saya tawarkan di menu PELUANG USAHA di atas, atau KLIK DI SINI... sebenarnya bebas terserah anda. Perusahaan-perusahaan bisnis online yang saya ikuti tersebut memberi patokan-patokan pemahaman akan potensi bisnis yang dituang dalam marketing plan, bisnis plan atau apapun istilahnya.

Misal bisnis Paytren, anda bermodal sekali 350.000, keanggotaan berlaku seumur hidup. Perusahaan memberi komisi/bonus sponsorisasi sebesar 75.000, artinya seberapa hebat anda berbisnis. Seminggu ada mengenalkan pada 1 orang, maka penghasilan anda seminggu ya Rp. 75.000. Namun bila anda mengenalkan Paytren pada 100 orang, maka penghasilan anda dari komisi sponsorisasi, anda dapat Rp. 75.000 x 100 = Rp. 7.500.000.

Sekian share dari saya. Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

No comments:

Post a Comment