Sunday, February 4, 2018

Jangan Menjual Ke Keluarga & Teman Dekat, Kenapa?



Sebelum anda sukses, jangan sekali-kali anda mencoba menjual produk anda ke keluarga dan teman dekat anda. Apalagi produk anda adalah MLM. Kenapa?

Silahkan simak paparan saya berikut ini. Sampai tuntas. Dijamin nggak lama. Mungkin cuma 5 menit saja.

Pikiran saya ini, murni perasan (perasan dari kata dasar "peras", bukan perasaan) dari pengalaman sekian tahun dalam menjual. Boleh jadi pikiran saya ini salah. Sangat mungkin salah. Namun saya persilahkan anda untuk mencoba membuktikan dan mencoba realistis. Saya juga berharap semoga saya salah. Sebab saya bukan leader MLM yang sukses dengan sekian banyak kamuflase mobil mewah kreditan dan kamuflase-kamuflase lainnya.

Sejak SD saya sudah tahu bagaimana jualan dan mempertahankan pembeli menjadi pelanggan. Mentor saya adalah Aba (=ayah) saya sendiri. Tapi saya belum jualan produk MLM waktu itu. namun jualan kebutuhan sehari-hari di rumah, membantu orang tua saya, di warung kelontong kecil di ujung wilayah Lamongan, perbatasan Gresik Jawa Timur. Penjualan yang sederhana.

Baru awal tahun 2000an saya diajak kakek saya dari Surabaya (sudah almarhum) bergabung di sebuah MLM dengan produk perlebahan. Sejak awal sampai saya memutuskan berhenti, saya nggak punya pembeli dan mitra bisnis yang berasal dari keluarga dekat atau teman dekat. Apalagi waktu itu saya kuliahnya di IKIP Negeri Malang (sekarang Universitas Negeri Malang).

Seperti kita tahu bersama, mahasiswa IKIP bukanlah mahasiswa universitas swasta nasional yang mahal biayanya, berasal dari keluarga ekonomi atas, pulang pergi kuliah pakai mobil pribadi. Bukan. Mahasiswa IKIP waktu itu identik dengan mahasiswa ekonomi menengah kebawah, bahkan kebanyakan ekonomi bawah. Jangankan untuk membeli produk MLM saya yang waktu itu sebotol setara dengan harga sewa kos sebulan, makan saja hutang di warung langganan tiap tanggal tua. Saya tidak menghina. Karena saya sendiri juga begitu.

Memang waktu itu IKIP Malang terkenal dengan universitas negeri berkualitas bagus, tapi paling murah. Seingat saya, uang SPP dan semua biaya yang harus di bayar tiap awal semester hanya Rp. 210.000. Tidak ada tambahan lagi. Total biaya yang harus dibayar di awal masuk tidak lebih dari Rp. 600.000. Itupun bisa dicicil.

Kebayang kan lingkungan dekat saya? Orang-orang hebat prestasinya, orang-orang cerdas, tapi (maaf) banyakan yang miskin.

Dandanan saya juga jauh dari pencitraan seorang pebisnis MLM. Saya berpakaian ya itu...itu.. saja. Hehe.. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab orang kurang yakin dengan produk saya saat melihat penampilan saya. Ini juga menjadi catatan tersendiri bagi saya.

Alhasil, para mitra bisnis saya di MLM tersebut, kebanyakan adalah orang yang saya kenal di bis antara Malang - Surabaya, sales door-to-door yang saya temui di jalan, karyawan pabrik yang ketemu makan di warung, orang yang ngantri di ATM, sesama pejalan jauh yang saya temui istirahat di musholah/warung ketika saya perjalanan Malang-Surabaya-Lamongan pakai motor, dan lain sejenisnya.

Setelah mrospek dikit, saya kasih kartu nama. Dari situ saya dapat pelanggan dan mitra distributor. Saya-nya tampilannya orang kere, tapi kan kartu nama saya standar perusahaan, keren. Hehe..

Pelanggan yang beli nggak cukup sekali, tapi berlangganan pun hampir semuanya adalah orang asing (bukan orang yang sudah kenal saya sebelumnya, bukan keluarga, dan juga bukan teman kuliah). Guru SMA dan dosen memang ada yang jadi pelanggan saya. Tapi hanya satu dua orang saja. Intinya bukan keluarga dan teman dekat.

Kenapa?

Mungkin inilah realitas. Fakta. Pengalaman nyata saya.

Ketika saya menjual produk ke keluarga dan teman dekat, saya butuh upaya lebih keras untuk meyakinkan pada mereka bahwa produk yang saya jual sangat bagus. Produk yang saya jual memang mahal, jika dibanding dengan obat warung yang seharga mie instant. Namun produk yang saya jual LEBIH MURAH ketimbang berobat ke dokter spesialis. Sebab kualitas dan manfaatnya sangat bagus.

Untuk meyakinkan keluarga atau teman dekat, butuh upaya yang 2-3 kali lipat lebih keras ketimbang saat saya menjual ke orang yang tidak saya kenal dekat sebelumnya.

Makanya saya malas menjual ke keluarga dan teman dekat. Apalagi mengajaknya untuk berbisnis di perusahaan MLM.

Jenis produk yang pernah saya jual dan susah terjual ke keluarga atau teman dekat adalah: produk kesehatan dari perusahaan MLM dan asuransi. Karena saya juga pernah menjadi agen asuransi berlisensi AAJI.

Namun ada jenis produk yang justru laris di teman dekat, hanya: Credit Card dan Personal Loan. Haha... ini ajaib.

Kenapa?

Saat ini, sebenarnya saya juga masih mengkaji hal itu, secara pribadi. Dan saya share pada anda kali ini, besar harapan saya ini bermanfaat untuk anda. Dan saya pasti sangat bersyukur jika ternyata anda tidak seperti saya, sehingga anda bisa mendapatkan rekan bisnis MLM dan bisa jualan produk dengan SANGAT MUDAH ke keluarga anda dan teman dekat anda.

Oh ya, saya ingin bertanya pada anda, kira-kira:
  1. Lebih banyak mana orang yang negatif ATAU yang positif di lingkungan anda?
  2. Lebih banyak mana orang yang bermental miskin ATAU yang bermental kaya?
  3. Lebih banyak mana orang yang bodoh ATAU orang yang pandai?
  4. Lebih banyak mana orang yang menutup diri dari perbaikan ATAU orang yang membuka diri dari perbaikan?
  5. Lebih banyak mana orang pesimis ATAU orang optimis?
  6. Lebih banyak mana mental pegawai ATAU mental pengusaha?
Jawabannya pasti. Orang negatif lebih banyak. Orang bermental miskin lebih banyak. Orang yang menutup diri lebih banyak. Orang pesimis lebih banyak.

Nah di situlah pengamatan saya berawal.

Saat saya berjualan ke teman dekat, tak peduli apapun yang saya jual, mereka selalu fokus berpikir: berapa keuntungan yang saya dapatkan dari dia.

Saat saya menawarkan peluang usaha menjadi distributor MLM, mereka mempertimbangkan kemudian menolak, karena mereka fokus pada: berapa keuntungan yang saya peroleh tiap bulan dari dia jika dia bergabung di MLM saya.

Semurah apapun saya menjual, karena saya juga sering menjual harga murah demi mengejar bulan tersebut poin penjualan saya tercapai, tanpa mengambil untung sama sekali. Saya jual harga distributor. Mereka tetap fokus pada: berapa keuntungan saya kalau dia beli produk kesehatan yang bermanfaat tersebut. Padahal saya nggak ambil untung.

Keluarga dan teman dekat, kebanyakan tidak peduli dengan biaya, waktu, dan tenaga saya. Mereka saya kasih harga distributor, saya nggak jual harga konsumen, artinya saya nggak ambil untung, saya modal pulsa untuk janjian ke rumahnya, saya modal bensin motor saya, saya juga menghabiskan waktu sama mereka, namun kebanyakan mereka tak menghargai itu.

Saat itu, bisnis MLM saya memang harus tutup poin. Agar penghasilan saya dari omset penjualan jaringan bisa cair ke rekening saya, saya harus menjual sekian Bisnis Poin, setara sekian ratus ribu rupiah.

IRONISNYA banyak diantara teman dekat saya yang pernah saya tawari produk dan bisnis MLM, mereka lebih memilih tertipu investasi bodong DAN rugi puluhan sampai ratusan juta rupiah, hasil penawaran orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Kebanyakan teman dekat kita (kebanyakan ya...bukan semuanya) tertanam dalam benak mereka selalu tentang berapa untung yang kita ambil dari mereka, BUKAN berapa rupiah kita membantu mereka berhemat untuk sehat, dan berapa keuntungan yang kita tawarkan pada mereka.

Padahal setelah mereka bisa sukses dan mendapat keuntungan melimpah dari bisnis yang kita tawarkan, apakah kita akan minta sekian persen dari penghasilan mereka untuk kantong kita? Tidak kan?

Inilah yang saya maksud di atas: mental negatif, mental miskin. Bisa jadi mereka jauh lebih kaya dari kita secara materi, namun secara mental itu miskin.

Ketika saya melakukan penjualan, orang yang mempercayai saya justru orang-orang asing yang saya temui di warung, di kafe, di antrian ATM, di antrian poliklinik, di ruang tunggu terminal bus, orang yang seperjalanan di bus, orang di ruang tunggu rumah sakit dan tempat-tempat umum lainnya.

Sedang beberapa teman dekat saya menutup diri, bahkan menjauh setelah tahu saya distributor MLM, keluarga pun banyak yang memandang rendah saya.

Namun, ketika mendapat penghasilan di atas 5.000.000 rupiah (ini pengalaman nyata, saya masih ingat), saya ajak teman-teman saya sekedar makan, ngopi di kafe yang sedikit lux, saya membayar semua makanan dan minuman mereka. Di situlah saya menyadari bahwa keluarga dan teman dekat akan lupa bahwa saya dapat uang ini dari bisnis yang selama ini mereka cibir.

Lantas Bagaimana Kita Bisa Sukses Di Bisnis MLM Kalau Begini Caranya Nih..???

Mungkin anda bertanya demikian. Bagaimana kita bisa menjalankan bisnis MLM kalau keluarga besar saya semuanya menolak? Kalau teman-teman akrab saya menolak?

JANGAN BERKECIL HATI.

Pengalaman saya tersebut terjadi di rentang tahun 2000 - 2010 an kok. Tidak terjadi sekarang. Pengalaman saya tersebut memang real, alias nyata. Tapi terjadi di saat media sosial belum menjamur. Di saat internet belum ada di genggaman banyak orang.

Sekarang anda coba tengok PELUANG USAHA yang saya tawarkan, cobalah anda berpikir positif dan ambil peluang itu secepat mungkin.

Dan cobalah tengok akun facebook anda, akun twitter anda, dan akun whatsapp anda. Betapa sangat banyak teman media sosial anda. Biarkan dulu keluarga anda menunggu anda sukses. Biarin aha dulu teman anda menjadi penonton yang setia men-sorak-i perjuangan anda. Anda bisa menjual dengan internet, kepada orang-orang yang tidak anda kenal. Anda bisa menjual dan mengajak orang di facebook anda, di twitter anda, di instagram anda, dan pada siapa saja, online maupun offline, orang yang bukan keluarga dan teman dekat.

Setelah anda bisa mendapat penghasilan di bisnis di internet ini sebesar Rp. 500.000 saja sehari, anda datangi sanak famili anda, anda datangi teman-teman dekat anda, anda bawakan rambutan, duren atau semangka, sambil anda bawa bukti penghasilan anda. Udah gitu aja, anda nggak perlu bilang company profile bisnis, anda nggak perlu membuktikan kualitas produk, insyaAlloh keluarga dan teman dekat anda sudah bimbang.

Setelah melihat bukti, keluarga dan teman dekat anda mulai tidak berpikir berapa keuntungan yang anda dapatkan dari mereka, tapi pelan-pelan akan berganti berapa juta per hari yang bisa mereka dapatkan dari bergabung di bisnis anda.

Ya. Ini selintas pengalaman saya.

Awali membangun bisnis ini dengan orang asing, orang yang anda kenal selewat, minta nomer kontaknya, dan teman di akun media sosial anda. Berjualan di facebook, nggak butuh bensin, nggak pakai keluar uang buat traktir mereka makan dan minum di kafe/rumah makan, anda tak perlu kepanasan dan kehujanan hanya untuk ketemu mereka.

Mudahnya di era medsos ini kan?

Sekian share dari saya.
Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

No comments:

Post a Comment