Wednesday, February 14, 2018

Peluang Trading Forex

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya senang berbagi peluang usaha di internet. Kali ini saya share: Peluang Trading Forex.

Sebelum saya share, anda bisa klik posting berikut ini:

1. Memulai Trading Forex
2. Bonus $50 Gratis Untuk Memulai Trading Forex
3. Cara Mudah Dapat $50 Gratis
4. Untuk anda yang belum pernah sama sekali trading forex, Mulai Mengenal Forex Dengan Akun Demo

Okay... Peluang Trading Forex ini memang sedikit agak rumit jika dibanding dengan 2 peluang usaha sebelumnya yang sudah saya share di blog saya ini (KLIK DI SINI untuk melihat 2 peluang yg sudah saya share sebelumnya). Sedikit lebih rumit pendaftarannya, cara menjalankannya dan melibatkan analisa atas perkembangan kondisi nyata keuangan negara-negara besar.

Jika 2 Peluang sebelumnya: cukup anda registrasi, mengkonsumsi produknya, dan menceritakan pada sebanyak-banyaknya orang atas kemudahan anda mendapatkan produk berkualitas, harga produk yang lebih murah dibandin produk sejenis di pasaran, dan anda tawarkan peluang usaha-nya. Cukup segitu saja.

Sedangkan Peluang Trading Forex ini, anda tidak membeli suatu produk yang bisa anda konsumsi. Namun seperti saham perusahaan. Anda bisa membeli saham di saat harga murah, anda menjualnya saat harga naik, dan anda dapat penghasilan dari selisih harga atas transaksi saham anda. Mungkin selintas seperti itu. Namun Forex tetaplah Forex. Forex bukan saham.

Apa Sih Forex?

Forex adalah kependekan dari Foreign Exchage atau pertukaran mata uang antar negara. Dalam bahasa Indonesia sering pula disebut Valas. Adapun valas juga kependekan dari valuta asing.

Mata uang dunia selalu berada pada nilau tukar yang mengambang. Seperti halnya uang kita, Rupiah. Nilai tukar rupiah tidak pernah tetap terhadap mata uang lain. Mata uang Indonesia, yang disimbolkan dengan IDR, nilainya naik-turun terhadap dolar Amerika yang disimbolkan dengan USD.

Orang awam pun sering mendengar, berapa harga dolar sekarang? Harga dolar 13.000 rupiah. Misalnya begitu. Artinya 1 USD sama dengan 13.000 IDR.

Harga atau nilai tersebut flutuatif. Tidak pernah tetap alias mengambang. Naik-turun. Kenapa naik turun? Karena ada transaksi perdagangan komoditi antar negara di dunia ini.

Misalnya:
Indonesia menjual kopi ke Amerika. Artinya Amerika membeli kopi dari Indonesia. Terjadilah transaksi antar matauang. Adanya transaksi jual beli IDR/USD. Setiap perdagangan, tidak ada harga barang yang tetap sepanjang masa. Harga kopi dunia tidak pernah tetap. Ada kalanya naik, ada kalanya turun. Di sinilah nilai IDR terhadap USD berubah.

Antar Indonesia-Amerika saja, bukan hanya Indonesia yang menjual komoditi ke Amerika, namun Amerika juga menjual barang ke Indonesia. Dan antar Indonesia-Amerika saja (belum kehitung dengan negara lain), tidak hanya satu komoditi, tidak hanya kopi saja, melainkan banyak produk yang terjual-belikan antar dua negara ini.

Di dunia, bukan hanya Indonesia-Amerika. Namun ada Inggris, Uni Eropa, Australia, Japan, dan banyak negara yang bertransaksi komoditi. Dan bukan hanya satu komoditi yang terjual-belikan, tapi buaaannyak komoditi.

Di sinilah terjadi fluktuasi nilai tukar antar mata uang negara-negara dunia.

Apa Sih Trading Forex?

Trading Forex adalah aktifitas perdagangan yang bisa anda lakukan secara online, yang melibatkan 2 atau lebih mata uang negara-negara besar dunia. Misal, anda punya sekian Dolar Amerika (USD) dan anda membeli (BUY) Poundterling Inggris (GBP). Kemudian terjadi pergerakan harga. Karena analisa anda terhadap gejolak ekonomi keuangan Amerika dan Inggris sangat tepat, dan nilai GBP terhadap USD naik. Kemudian anda menjual (SELL) Pounds (GBP) anda, sekaligus anda membeli dollar Amerika (USD) lagi, maka pada saat itu anda untung (profit). Saldo dolar (USD) anda bertambah.

Dahulu, perdagangan ini hanya dilaksanakan oleh bank-bank besar dunia dan beberapa institusi forex besar dunia saja. Namun seiring perkembangan teknologi internet, beberapa Perusahaan Forex Dunia (salah satunya FBS) memecah unit perdagangan menjadi lebih kecil, sehingga memungkinkan kita, saya dan anda, bisa berpartisipasi dalam transaksi forex dunia ini, hanya dengan modal kecil mulai $1 - $ 100 saja anda bisa trading forex.

Bagaimana Saya Bisa Trading Forex?

Mungkin anda bertanya begitu. Untuk menjawab pertanyaan anda tersebut, saya tidak membahasnya di sini. Sebab saya sudah siapkan khusus website sharing seputar Trading Forex di www.TraderForex.xyz

Atau anda bisa klik posting saya berikut:

1. Memulai Trading Forex
2. Bonus $50 Gratis Untuk Memulai Trading Forex
3. Cara Mudah Dapat $50 Gratis
4. Untuk anda yang belum pernah sama sekali trading forex, Mulai Mengenal Forex Dengan Akun Demo

Sekian share dari saya, jam di sudut kanan bawah leptop sudah menunjuk 23.53 WIB. Saya cukupkan sekian dulu. Jika ada yang perlu saya ulas lebih jauh, insyaAlloh saya posting lagi hari esok.

Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.
Regards,
Adib Ahmadi

Monday, February 12, 2018

Uang Itu Sangat Relatif, Tahu Kenapa?



Setelah saya mengamati betul. Ternyata nilai Uang Itu Sangat Relatif.

Tadi malam, saya ingin menyampaikan pengalaman dan pengamatan saya ini dalam status facebook. Saya ingin menyampaikannya pendek saja. Namun tak terasa, setelah status saya posting, ternyata panjang juga. Akhirnya saya putuskan untuk share di site saya ini saja.

Sama dengan posting-posting saya sebelumnya, misi dan tujuan saya tetaplah sama seperti yang saya tuang di http://www.adib.club/p/tentang-adib.html yakni: Berbagi cerita hidup untuk kebaikan bersama. Berbagi kebaikan untuk cerita bersama. Bersama menceritakan kebaikan hidup. Bersama membaikkan cerita hidup.

Selain pengalaman sales-hard, door-to-door, di Surabaya, Malang, Yogyakarta.. Sampai di Banjar Jawa Barat saya pernah jualan ikan-laut-segar keliling.

Sebelum bekerja di salah satu developer perumahan di Ciamis ini, saya sempat wirausaha jual ikan laut keliling. Dari perumahan yang satu ke perumahan yang lain, masih di wilayah Kota Banjar, Bagian timur wilayah Ciamis dan sedikit wilayah Jawa Tengah bagian barat, berbatasan dengan Kota Banjar Jawa Barat.

Tak kenal gengsi. Tak ada malu. Saya tanggalkan gelar sarjana yang menempel pada diri saya. Berikhtiar dengan berbaju kumal dan bau amis. Saya beli ikan di pesisir Pangandaran atau seputaran Pelabuhan Ikan Cilacap. Kemudian pagi hari, saya bungkus mulai 2 ons, 0,25 kg, 0,5 kg sampai 1 kg per kemasan, dari berbagai macam hasil laut (udang, cumi-cumi, ikan-ikan, kepiting dan lainnya). Saya keliling tiap hari bertemu dengan berbagai macam orang, berbagai macam suku, berbagai macam profesi dan berbagai level ekonomi. Dan itu berjalan lebih dari 2 tahun.

Saya banyak diremehkan orang, dicibir, direndahkan, dan berkawan dengan kalangan low-end dalam hal formal-akademik, namun saya bisa enjoy, menikmati dan SAYA TETAP BELAJAR banyak pada mereka. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari hidup mereka dan saya belajar pada mereka dalam banyak hal. Meski saya harus berhenti karena suatu sebab irrasional.

Langganan saya tidak banyak, hanya dari 6 - 12 perumahan dan beberapa kampung-kampung, yang saya bagi 2: sehari ke 6 perumahan dan beberapa kampung, esok harinya ke perumahan dan kampung lain. Saya gilir begitu. Kurang lebih yaa... 2 hari sekali saya bertemu dengan langganan-langganan saya. Sebagian besar ibu-ibu. Meskipun ada juga bapak-bapak yang ikan laut mania.

Tahukah anda, dari ikan yang saya jual setiap hari, saya belajar dan membuktikan langsung teori ekonomi tentang SUPPLY & DEMAND, tentang fluktuasi nilai rupiah terhadap hasil tangkapan ikan, dan tentang nilai uang yang SANGAT RELATIF.

Salah satu yang saya jual adalah cumi-cumi segar. Suatu waktu saya pernah menjual sebungkus cumi-cumi segar, Rp. 15.000 / bungkus (2,5 ons).

Tahukah anda, ternyata dengan orang yang berbeda, dari perumahan yang berbeda, dan dari kalangan profesi yang berbeda: cumi-cumi saya ternyata mahal (mungkin dia bandingkan dengan tempe yang sebatang Rp. 2.000, jadi dengan uang Rp. 15.000 dia bisa dapat 7 batang tempe.), sekaligus bagi yang lain bilang dagangan saya sangat murah (karena saya tahu jika dibandingkan dengan toserba langganan dia, dagangan saya lebih segar dan lebih murah hingga 50%).

Padahal kualitas cumi-cumi yang saya bawa sama segarnya lho.., saya bawa keliling dengan cool-box yang saya beri es, sehingga suhu bisa dipertahankan di bawah 16 derajat celcius. Sehingga kesegaran dan kualitas tetap sama walaupun sampai ke mereka selisih 1-3 jam pun. Kemasan sama. Berat timbangan sama. Harga sama-sama 15.000.

Langganan yang bilang mahal, beli cuma sebungkus nawarnya lamaaaaa..., tapi ya tetep beli.
Langganan yang bilang murah, ada yang belinya nggak keluar pagar rumahnya, nggak pakai pilah-pilih, nggak pakai mengacak-acak dagangan saya, beli 4 - 6 bungkus nggak pakai komentar langsung ngasih uang, plus "ngancam" kalau lusa harus lewat di depan rumah dia dan harus sms dulu kalau ada cumi-cumi.

Kenapa Berbeda Ungkapan?

Kenapa sampai muncul ungkapan berbeda antar sekian orang. Satu orang bilang MAHAL. Orang lainnya bilang SANGAT MURAH.

Di situlah letak adanya RELATIFITAS NILAI UANG. Bukti bahwa nilai uang itu relatif.

Karena itulah, sebaiknya jangan bilang 15.000 itu sedikit. Karena ada beberapa kalangan yang menganggap 15.000 itu sangat besar. Demikian pula SEBALIKNYA Jangan pula memutlakkan bahwa 15.000 itu besar, karena ada orang lain yang menganggap itu nilai sangat kecil.

Relatif Itu Juga Berlaku Pada Pengeluaran (Belanja) & Pemasukan (Income)

Orang berpenghasilan di atas 7 juta/bulan, beranggapan pengeluaran 15.000 untuk 0,25 kg cumi-cumi itu nilai sangatlah kecil. Dibanding dengan kenikmatan melahap cumi-cumi segar (bukan asinan).

Orang berpenghasilan di bawah UMR, pastilah beranggapan pengeluaran 15.000 untuk lauk sekali makan bersama keluarga itu sangat besar.

Pelajaran dari pengalaman nyata saya tersebut, hal PENGELUARAN. Namun itu pasti berlaku pula untuk PEMASUKAN / income / penghasilan.

Sebab pemasukan dan pengeluaran itu seperti dua sisi mata uang. Keduanya ada dalam tiap fase hidup.

Beberapa waktu lalu, saya membaca peluang bisnis, yang bisa dijalankan online maupun offline. Bisa dijalankan di internet maupun di tempat kerja, keluarga dan sekitar kita. Peluang yang saya baca, modal keluar sekali, beli produk 1 box saja seharga 99.000, potensi penghasilan Rp. 1.000.000 / hari.

Saya tertarik, saya cek & recek keabsahan peluang itu, saya cari testimoni-testimoni, benar nggak-nya, dan setelah saya tahu bagus, kemudian saya bergabung dengan membeli 4 box (secara bertahap),

Bagi saya (saat ini), dapat income Rp. 1 juta per hari itu sudah cukup bagus.

Bagi anda mungkin beda. Bisa jadi anda saat ini sudah terbiasa dengan penghasilan Rp. 5 juta / hari. Mungkin anda mencibir saya: AH, SEJUTA SEHARI MAH KECIL MAS...!!

Bagi orang lain yang puluhan tahun kerja berpenghasilan Rp. 60.000 / hari atau setara 1.800.000/bulan, itupun harus peras keringat, kerja berat, dari pagi sampai malam... sehingga ketika mendengar ada bisnis di facebook ini yang bisa berpotensi penghasilan Rp. 1 juta / hari.. pikiran mereka langsung teriak negatif: MASAK KERJA FESBUKAN DAPAT 1 JUTA / HARI ???? JANGAN NGIMPIII MAS...!!!

Makanya saya sebut di atas: UANG ITU SANGAT RELATIF

Karena itulah saya selalu ragu untuk menawarkan pada anda, bahwa PELUANG BISNIS yang saya tawarkan di menu PELUANG USAHA berpotensi penghasilan sekian juta per bulan. Karena bisnis online, sebenarnya fleksibel. Tergantung anda menginginkan berapa, tergantung seberapa keras upaya anda.

Ragunya kenapa?

Saya khawatir jangan-jangan anda saat ini, dari usaha/kerja anda sekarang, anda sudah terbiasa berpenghasilan diatas 30 juta / bulan. Kan jadinya kayak saya nawarin barang mainan pada anda, kalau cuma 5 juta/bulan.

Saya juga khawatir, jangan-jangan mereka yang saya tawari, biasa diberi suami uang belanja 600.000 sebulan, sehingga terbentuk stigma dan persepsi dalam otak mereka bahwa hidup ini susah, mentok-mentoknya penghasilan ya 600.000 saja. Dapat 1.000.000/bulan aja masyaAlloh syukur banget. KEMUDIAN saya tawari bisnis dengan potensi 5 juta / bulan... kan saya jadinya kayak nawarin hayalan.

Potensinya, Terserah Seberapa Hebat Anda Berbisnis

Bisnis online yang saya tawarkan di menu PELUANG USAHA di atas, atau KLIK DI SINI... sebenarnya bebas terserah anda. Perusahaan-perusahaan bisnis online yang saya ikuti tersebut memberi patokan-patokan pemahaman akan potensi bisnis yang dituang dalam marketing plan, bisnis plan atau apapun istilahnya.

Misal bisnis Paytren, anda bermodal sekali 350.000, keanggotaan berlaku seumur hidup. Perusahaan memberi komisi/bonus sponsorisasi sebesar 75.000, artinya seberapa hebat anda berbisnis. Seminggu ada mengenalkan pada 1 orang, maka penghasilan anda seminggu ya Rp. 75.000. Namun bila anda mengenalkan Paytren pada 100 orang, maka penghasilan anda dari komisi sponsorisasi, anda dapat Rp. 75.000 x 100 = Rp. 7.500.000.

Sekian share dari saya. Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

Tuesday, February 6, 2018

Ingin Sukses, Ikutilah Jalan Orang Yang Sudah Sukses


Kali ini saya ingin share lagi, di keheningan malam. Sebab hanya di waktu malam saya bisa menulis dengan lebih fokus. Sehingga satu kali tulisan, cukup sekali duduk. Masih tentang obsesi saya yang belum kesampaian, yakni: sukses.

Kata sukses masih sangat general ya... Baik lingkup sukses, parameter sukses, maupun makna kata "sukses" itu masihlah bebas pemahamannya. Namun kali ini saya membatasi ruang-makna di posting saya ini dengan beberapa poin, supaya kita bisa menyamakan arti, hanya dalam rangka untuk membaca posting saya kali ini saja. Batasan saya berikut ini:
  1. Sukses bukan soal jumlah nominal angka uang. Uang hanya salah satu bentuk pencapaian. Proses untuk mendapatkan uang itu ada pada kepribadian. Uang bisa didapat oleh pribadi positif maupun pribadi negatif. Uang bisa diperoleh dengan cara positif maupun negatif. 
  2. Sukses bukan soal prestis-sesaat yang pasti akan lekang oleh waktu, misal mobil merek dan tahun tertentu, rumah dengan disain arsitektural tertentu, atau benda-benda yang masa berlaku prestisius-nya hanya dalam kurun waktu yang terbatas lainnya.
  3. Sukses lebih pada pencapaian kualitas pribadi seseorang.
Sejenak saya ingin bercerita pengalaman nyata saya:

Dalam rentang waktu kurang dari 20 tahun silam, saya sempat kenal dengan beberapa orang. Dintaranya ada: direktur, manajer, kepala cabang sebuah bisnis raksasa taraf nasional maupun internasional, pemilik bisnis lokal, para pebisnis kreatif lokal. Biasa disebut: ORANG SUKSES. 

Dan dari beberapa orang tersebut, sebut saja sampel pengamatan, saya kenal hanya di area: Surabaya, Malang, Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta. Tidak di luar wilayah itu. 

Dari segi pendidikan, ada yang SMP saja tidak lulus sampai ada yang bergelar S2 lokal dan luar negeri.

Dan berdasar suku/ras, beberapa orang tersebut berasal dari suku/ras: Arab keturunan, China keturunan, Jawa, Betawi, & Sunda. Saya tidak mengenal selain itu. 

Dari sisi agama, beliau-beliau: ada yang islam, ada yang kristen, dan ada yang katolik. 

Ada yang saya kenal dekat, sampai selintas kayak temen deket aja. Ada yang kenal jauh, karena saya hanyalah pegawai di perusahaan dimana tokoh sukses ini berada.

Namun bersama beliau-beliau, saya melihat, mendengar, dan merekam pribadi-pribadi ini dalam hidup keseharian, dari sisi pemikiran, dalam hal berteman, dalam hal berkeluarga dan dalam hal proses pencapaian-pencapaian prestasi. Sikap, kebiasaan, filosofi, cara pandang dan pemikiran.

Dengan total aset pribadi (termasuk aset usaha, property dan kendaraan pribadi) yang beragam, mulai yang kecil kurang lebih 100 jutaan sampai diatas 200 milyar.

Dengan batasan-batasan kualitas pribadi, kearifan budaya yang beliau-beliau pegang, agama yang beliau-beliau peluk, keyakinan-keyakinan yang mewarnai karakter, dan wawasan akademik beliau-beliau TERSEBUT saya belajar. Dan menemukan beberapa kesamaan:
  1. Yakin Pada Tuhan. 
  2. Optimis dan percaya diri.
  3. Pantang menyerah. Ulet dan tekun. Konsisten.
  4. Suka membaca. Baca buku, koran, dan media tulis lain.
  5. Tidak suka nonton TV selain berita. Bahkan ada yang anti TV.
  6. Sederhana dan terkesan biasa. 
  7. Open mind, terbuka terhadap segala jenis kebaikan, ilmu dan perkembangan dan inovasi apapun, dan dari siapapun.
  8. Pemakai internet.
Saya tidak membahas PERBEDAANYA. Karena pasti banyak sekali perbedaan.

Yakin Pada Tuhan

Singkat kata, orang-orang ini semuanya taat beribadah dan benar-benar menyembah Tuhannya, menghamba pada Tuhannya. Saya tidak menemukan diantara beliau-beliau ini yang menghamba pada selain Tuhannya. 

Yang muslim, bukan hanya menjalankan yang wajib. Namun bangun malam untuk sholat di sepertiga malam. Bukan hanya membayar zakat dengan benar, tapi ada yang menyantuni lebih dari 10 anak yatim. Dan ada satu "bos" yang suka menasehati saya supaya jangan pernah lupa berdoa. Tambahkan doa minta sukses bekerja di setiap doa kita.

Semua meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan terjadi. Semua meyakini bahwa kesuksesannya ada peran serta Tuhan. Ada yang suka menyebut: pencapaian saya ini bukan karena keahlian saya, tapi karena adanya intervensi Tuhan.

Optimis Dan Percaya Diri

Semua orang sukses yang pernah saya kenal, dan saya amati SEMUANYA selalu optimis dan percaya diri. Tidak ada yang pesimis. Tidak ada yang minder.

Pantang Menyerah

Semuanya tidak ada satupun yang mudah menyerah. Jika terpaksa dalam kondisi darurat ia harus diam, saat diamnya itu dia tidak menyerah. Ia diam untuk mengendapkan hati. Ia diam untuk menyusun rencana dan visi, selanjutnya AKSI lagi dengan target pencapaian lebih baik daripada sebelumnya.

Suka Baca

Saya belum pernah mengenal orang hebat yang mengharamkan dirinya membaca. Membaca apa saja. Membaca buku-buku yang terkait langsung atau tidak langsung dengan bisnis atau profesi yang belia tekuni... MAUPUN buku-buku yang tidak ada hubungan sama sekali dengan bisnis atau profesinya.

Misal, seorang manajer pemasaran salah satu kartu kredit dari bank asing, tapi masih mau membaca novel-novel karya Habiburrahman El Shirazy. Seorang pricipal sebuah real estate brokerage asing, suka membaca karya-karya Sitor Situmorang, KAN NGGAK NYAMBUNG dengan profesinya. Tapi masih dibaca. Kebayang kan, apalagi buku-buku yang berkait langsung dengan bisnisnya. Pasti pasti pasti dibaca.

Saya mengamati, semuanya suka baca.

Anti Televisi

Rata-rata dari orang sukses yang saya kenal tersebut, tidak suka nonton berlama-lama di depan televisi.

Dan ada yang jelas-jelas anti televisi. Dia punya aset properti dan kendaraan mewah yang cukup bisa disebut orang kaya. Biaya pendidikan anaknya pasti besar, karena di jurusan dan universitas mahal. Anak yatim yang diasuh di rumahnya saja difasilitasi komputer. Tapi tidak punya televisi. Di tempat usahanya ada 1 buah televisi, hanya di ruang tunggu customernya. Dia bilang, itu adalah televisi kedua yang pernah dia beli. Televisi pertama yang dia beli, saat salah satu marketing yang memenuhi target pemasaran, pada suatu waktu ditanya mau hadiah apa. Marketing tersebut minta televisi.

Sederhana Dan Terkesan Biasa

Tampil sewajarnya. Sederhana di kelasnya. Tidak bermegah-megahan yang berlebihan. Dan terkesan biasa. Itu juga saya temukan pada semua orang sukses yang pernah saya kenal langsung.

Suatu ketika di salah satu kantor di mana saya pernah kerja paling lama. Jam istirahat, saya nerima sms (waktu itu belum ada WhatsApp, BBM juga saya belum punya) dari pak bos saya waktu itu: mas, temani saya makan.

Seneng banget kan, pegawai rendahan kayak saya disuruh nemenin makan. Masuklah saya di mobilnya dan meluncur ke sebuah rumah makan yang lumayan mewah di daerah itu. Pramusaji menyodorkan menu. Simple-nya kan saya bilang ke pramusaji "saya sama dengan bapak". Anda tahu apa yang dipesan pak bos saya? Beliau pesan nasi putih, cah kangkung, ceplok telor, kopi hitam dan air mineral.

Pelit atau sederhana?

Itulah sederhana. Karena saya tahu belau rela keluar uang lebih dari 1 milyar untuk membangun rumah dan menyiapkan usaha produksi rumahan, demi menyantuni anak yatim dan dhuafa. Saat parkir mobil, normalnya waktu itu masih Rp. 2000, beliau bisa keluar uang sesukanya, ada 20.000 ya diberikan, adanya 50.000 ya dikasih, tanpa minta kembalian.

Namun konsumsinya, sehat sederhana. Mobilnya pun tidak lebih dari 1 milyar. Untuk ukuran omset bisnis puluhan milyar. Itu sederhana. Bajunya pun rapi sederhana tak selalu bermerek mahal.

Open Mind & Pemakai Internet Secara Bijak

Semua orang sukses yang saya kenal, selalu berpikiran terbuka, mengikuti perkembangan teknologi, terbuka terhadap semua kebaikan dan perbaikan, tidak menutup pikiran karena merasa sudah paling pinter dan paling hebat. Enggak.

Internet pun dipakai dalam sehari-hari. Kebanyakan orang sukses memandang hal baru sebagai sebuah perubahan, salah satunya internet, pada saat itu masih tergolong hal baru dan belum tersebar dan canggih seperti saat ini. Dan kita harus siap belajar, belajar, dan belajar terus agar perkembangan baru itu menjadi faktor pendukung bisnis dan pengembangan pribadi kita.

Ikutilah Jalan Orang Yang Sudah Sukses

Setelah saya mengamati, mempelajari, dan menganalisa langsung banyak hal terkait ORANG SUKSES. Saya mencoba untuk belajar, meniru, dan terus mencari pribadi-pribadi sukses untuk saya belajar padanya. Baik belajar secara langsung, maupun secara tak langsung.

Bagi anda, pastilah berbeda bagi saya. Sukses bagi anda, pastilah berbeda pemaknaan sukses bagi saya. Cara anda menggapai kesuksesan juga pasti berbeda dengan cara saya.

Bukankah perbedaan itu rahmat?

Boleh jadi anda punya figur-figur yang menurut anda dia orang sukses, maka ikutilah jalannya agar anda juga bisa sukses.

Dalam bisnis online, seperti yang saya share di MENU PELUANG USAHA juga sama. Anda punya seorang teman yang mengajak anda bisnis online, dan dia sudah sukses dalam pandangan mata anda. Atau setidaknya teman anda tersebut gigih memperjuangkan kesuksesannya. Cara sukses pun jelas, tinggal mengikuti jalan teman anda dalam berbisnis online tersebut.

Apapun yang dia lakukan dalam menjalankan bisnis ini, anda juga lakukan. Apapun manajemen waktu dan promosi dia, coba anda tiru. InsyaAlloh sukses anda nggak jauh beda dengan kesuksesan teman anda tersebut. Jika teman anda berhasil mendapat penghasilan dari bisnis online tersebut sebesar 700.000/hari, insyaAlloh anda juga nggak jauh beda. Ya kurang lebih 700.000/hari pendapatan anda.

Sekian share dari saya, salam sukses untuk kita semua.




Sunday, February 4, 2018

Jangan Menjual Ke Keluarga & Teman Dekat, Kenapa?



Sebelum anda sukses, jangan sekali-kali anda mencoba menjual produk anda ke keluarga dan teman dekat anda. Apalagi produk anda adalah MLM. Kenapa?

Silahkan simak paparan saya berikut ini. Sampai tuntas. Dijamin nggak lama. Mungkin cuma 5 menit saja.

Pikiran saya ini, murni perasan (perasan dari kata dasar "peras", bukan perasaan) dari pengalaman sekian tahun dalam menjual. Boleh jadi pikiran saya ini salah. Sangat mungkin salah. Namun saya persilahkan anda untuk mencoba membuktikan dan mencoba realistis. Saya juga berharap semoga saya salah. Sebab saya bukan leader MLM yang sukses dengan sekian banyak kamuflase mobil mewah kreditan dan kamuflase-kamuflase lainnya.

Sejak SD saya sudah tahu bagaimana jualan dan mempertahankan pembeli menjadi pelanggan. Mentor saya adalah Aba (=ayah) saya sendiri. Tapi saya belum jualan produk MLM waktu itu. namun jualan kebutuhan sehari-hari di rumah, membantu orang tua saya, di warung kelontong kecil di ujung wilayah Lamongan, perbatasan Gresik Jawa Timur. Penjualan yang sederhana.

Baru awal tahun 2000an saya diajak kakek saya dari Surabaya (sudah almarhum) bergabung di sebuah MLM dengan produk perlebahan. Sejak awal sampai saya memutuskan berhenti, saya nggak punya pembeli dan mitra bisnis yang berasal dari keluarga dekat atau teman dekat. Apalagi waktu itu saya kuliahnya di IKIP Negeri Malang (sekarang Universitas Negeri Malang).

Seperti kita tahu bersama, mahasiswa IKIP bukanlah mahasiswa universitas swasta nasional yang mahal biayanya, berasal dari keluarga ekonomi atas, pulang pergi kuliah pakai mobil pribadi. Bukan. Mahasiswa IKIP waktu itu identik dengan mahasiswa ekonomi menengah kebawah, bahkan kebanyakan ekonomi bawah. Jangankan untuk membeli produk MLM saya yang waktu itu sebotol setara dengan harga sewa kos sebulan, makan saja hutang di warung langganan tiap tanggal tua. Saya tidak menghina. Karena saya sendiri juga begitu.

Memang waktu itu IKIP Malang terkenal dengan universitas negeri berkualitas bagus, tapi paling murah. Seingat saya, uang SPP dan semua biaya yang harus di bayar tiap awal semester hanya Rp. 210.000. Tidak ada tambahan lagi. Total biaya yang harus dibayar di awal masuk tidak lebih dari Rp. 600.000. Itupun bisa dicicil.

Kebayang kan lingkungan dekat saya? Orang-orang hebat prestasinya, orang-orang cerdas, tapi (maaf) banyakan yang miskin.

Dandanan saya juga jauh dari pencitraan seorang pebisnis MLM. Saya berpakaian ya itu...itu.. saja. Hehe.. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab orang kurang yakin dengan produk saya saat melihat penampilan saya. Ini juga menjadi catatan tersendiri bagi saya.

Alhasil, para mitra bisnis saya di MLM tersebut, kebanyakan adalah orang yang saya kenal di bis antara Malang - Surabaya, sales door-to-door yang saya temui di jalan, karyawan pabrik yang ketemu makan di warung, orang yang ngantri di ATM, sesama pejalan jauh yang saya temui istirahat di musholah/warung ketika saya perjalanan Malang-Surabaya-Lamongan pakai motor, dan lain sejenisnya.

Setelah mrospek dikit, saya kasih kartu nama. Dari situ saya dapat pelanggan dan mitra distributor. Saya-nya tampilannya orang kere, tapi kan kartu nama saya standar perusahaan, keren. Hehe..

Pelanggan yang beli nggak cukup sekali, tapi berlangganan pun hampir semuanya adalah orang asing (bukan orang yang sudah kenal saya sebelumnya, bukan keluarga, dan juga bukan teman kuliah). Guru SMA dan dosen memang ada yang jadi pelanggan saya. Tapi hanya satu dua orang saja. Intinya bukan keluarga dan teman dekat.

Kenapa?

Mungkin inilah realitas. Fakta. Pengalaman nyata saya.

Ketika saya menjual produk ke keluarga dan teman dekat, saya butuh upaya lebih keras untuk meyakinkan pada mereka bahwa produk yang saya jual sangat bagus. Produk yang saya jual memang mahal, jika dibanding dengan obat warung yang seharga mie instant. Namun produk yang saya jual LEBIH MURAH ketimbang berobat ke dokter spesialis. Sebab kualitas dan manfaatnya sangat bagus.

Untuk meyakinkan keluarga atau teman dekat, butuh upaya yang 2-3 kali lipat lebih keras ketimbang saat saya menjual ke orang yang tidak saya kenal dekat sebelumnya.

Makanya saya malas menjual ke keluarga dan teman dekat. Apalagi mengajaknya untuk berbisnis di perusahaan MLM.

Jenis produk yang pernah saya jual dan susah terjual ke keluarga atau teman dekat adalah: produk kesehatan dari perusahaan MLM dan asuransi. Karena saya juga pernah menjadi agen asuransi berlisensi AAJI.

Namun ada jenis produk yang justru laris di teman dekat, hanya: Credit Card dan Personal Loan. Haha... ini ajaib.

Kenapa?

Saat ini, sebenarnya saya juga masih mengkaji hal itu, secara pribadi. Dan saya share pada anda kali ini, besar harapan saya ini bermanfaat untuk anda. Dan saya pasti sangat bersyukur jika ternyata anda tidak seperti saya, sehingga anda bisa mendapatkan rekan bisnis MLM dan bisa jualan produk dengan SANGAT MUDAH ke keluarga anda dan teman dekat anda.

Oh ya, saya ingin bertanya pada anda, kira-kira:
  1. Lebih banyak mana orang yang negatif ATAU yang positif di lingkungan anda?
  2. Lebih banyak mana orang yang bermental miskin ATAU yang bermental kaya?
  3. Lebih banyak mana orang yang bodoh ATAU orang yang pandai?
  4. Lebih banyak mana orang yang menutup diri dari perbaikan ATAU orang yang membuka diri dari perbaikan?
  5. Lebih banyak mana orang pesimis ATAU orang optimis?
  6. Lebih banyak mana mental pegawai ATAU mental pengusaha?
Jawabannya pasti. Orang negatif lebih banyak. Orang bermental miskin lebih banyak. Orang yang menutup diri lebih banyak. Orang pesimis lebih banyak.

Nah di situlah pengamatan saya berawal.

Saat saya berjualan ke teman dekat, tak peduli apapun yang saya jual, mereka selalu fokus berpikir: berapa keuntungan yang saya dapatkan dari dia.

Saat saya menawarkan peluang usaha menjadi distributor MLM, mereka mempertimbangkan kemudian menolak, karena mereka fokus pada: berapa keuntungan yang saya peroleh tiap bulan dari dia jika dia bergabung di MLM saya.

Semurah apapun saya menjual, karena saya juga sering menjual harga murah demi mengejar bulan tersebut poin penjualan saya tercapai, tanpa mengambil untung sama sekali. Saya jual harga distributor. Mereka tetap fokus pada: berapa keuntungan saya kalau dia beli produk kesehatan yang bermanfaat tersebut. Padahal saya nggak ambil untung.

Keluarga dan teman dekat, kebanyakan tidak peduli dengan biaya, waktu, dan tenaga saya. Mereka saya kasih harga distributor, saya nggak jual harga konsumen, artinya saya nggak ambil untung, saya modal pulsa untuk janjian ke rumahnya, saya modal bensin motor saya, saya juga menghabiskan waktu sama mereka, namun kebanyakan mereka tak menghargai itu.

Saat itu, bisnis MLM saya memang harus tutup poin. Agar penghasilan saya dari omset penjualan jaringan bisa cair ke rekening saya, saya harus menjual sekian Bisnis Poin, setara sekian ratus ribu rupiah.

IRONISNYA banyak diantara teman dekat saya yang pernah saya tawari produk dan bisnis MLM, mereka lebih memilih tertipu investasi bodong DAN rugi puluhan sampai ratusan juta rupiah, hasil penawaran orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Kebanyakan teman dekat kita (kebanyakan ya...bukan semuanya) tertanam dalam benak mereka selalu tentang berapa untung yang kita ambil dari mereka, BUKAN berapa rupiah kita membantu mereka berhemat untuk sehat, dan berapa keuntungan yang kita tawarkan pada mereka.

Padahal setelah mereka bisa sukses dan mendapat keuntungan melimpah dari bisnis yang kita tawarkan, apakah kita akan minta sekian persen dari penghasilan mereka untuk kantong kita? Tidak kan?

Inilah yang saya maksud di atas: mental negatif, mental miskin. Bisa jadi mereka jauh lebih kaya dari kita secara materi, namun secara mental itu miskin.

Ketika saya melakukan penjualan, orang yang mempercayai saya justru orang-orang asing yang saya temui di warung, di kafe, di antrian ATM, di antrian poliklinik, di ruang tunggu terminal bus, orang yang seperjalanan di bus, orang di ruang tunggu rumah sakit dan tempat-tempat umum lainnya.

Sedang beberapa teman dekat saya menutup diri, bahkan menjauh setelah tahu saya distributor MLM, keluarga pun banyak yang memandang rendah saya.

Namun, ketika mendapat penghasilan di atas 5.000.000 rupiah (ini pengalaman nyata, saya masih ingat), saya ajak teman-teman saya sekedar makan, ngopi di kafe yang sedikit lux, saya membayar semua makanan dan minuman mereka. Di situlah saya menyadari bahwa keluarga dan teman dekat akan lupa bahwa saya dapat uang ini dari bisnis yang selama ini mereka cibir.

Lantas Bagaimana Kita Bisa Sukses Di Bisnis MLM Kalau Begini Caranya Nih..???

Mungkin anda bertanya demikian. Bagaimana kita bisa menjalankan bisnis MLM kalau keluarga besar saya semuanya menolak? Kalau teman-teman akrab saya menolak?

JANGAN BERKECIL HATI.

Pengalaman saya tersebut terjadi di rentang tahun 2000 - 2010 an kok. Tidak terjadi sekarang. Pengalaman saya tersebut memang real, alias nyata. Tapi terjadi di saat media sosial belum menjamur. Di saat internet belum ada di genggaman banyak orang.

Sekarang anda coba tengok PELUANG USAHA yang saya tawarkan, cobalah anda berpikir positif dan ambil peluang itu secepat mungkin.

Dan cobalah tengok akun facebook anda, akun twitter anda, dan akun whatsapp anda. Betapa sangat banyak teman media sosial anda. Biarkan dulu keluarga anda menunggu anda sukses. Biarin aha dulu teman anda menjadi penonton yang setia men-sorak-i perjuangan anda. Anda bisa menjual dengan internet, kepada orang-orang yang tidak anda kenal. Anda bisa menjual dan mengajak orang di facebook anda, di twitter anda, di instagram anda, dan pada siapa saja, online maupun offline, orang yang bukan keluarga dan teman dekat.

Setelah anda bisa mendapat penghasilan di bisnis di internet ini sebesar Rp. 500.000 saja sehari, anda datangi sanak famili anda, anda datangi teman-teman dekat anda, anda bawakan rambutan, duren atau semangka, sambil anda bawa bukti penghasilan anda. Udah gitu aja, anda nggak perlu bilang company profile bisnis, anda nggak perlu membuktikan kualitas produk, insyaAlloh keluarga dan teman dekat anda sudah bimbang.

Setelah melihat bukti, keluarga dan teman dekat anda mulai tidak berpikir berapa keuntungan yang anda dapatkan dari mereka, tapi pelan-pelan akan berganti berapa juta per hari yang bisa mereka dapatkan dari bergabung di bisnis anda.

Ya. Ini selintas pengalaman saya.

Awali membangun bisnis ini dengan orang asing, orang yang anda kenal selewat, minta nomer kontaknya, dan teman di akun media sosial anda. Berjualan di facebook, nggak butuh bensin, nggak pakai keluar uang buat traktir mereka makan dan minum di kafe/rumah makan, anda tak perlu kepanasan dan kehujanan hanya untuk ketemu mereka.

Mudahnya di era medsos ini kan?

Sekian share dari saya.
Salam sukses untuk anda, sejahtera bersama keluarga.

Thursday, February 1, 2018

GILA: Potensi Bisnis Di Facebook Luar Biasa


Apa yang anda pikirkan ketika anda mendengar kata: facebook???

Apakah dalam otak anda, facebook masuk dalam arti mainan? Setara dengan game online atau setara dengan game-game di handphone anda? Atau anda berpikir bahwa facebook adalah mainan penuh iseng?

Itu sepenuhnya terserah anda. Anda bebas mendefinisikan arti facebook untuk anda sendiri.

Bagi saya facebook adalah semacam ladang. Di mana semua orang bebas menanam apapun di ladang itu. Orang yang menanam kebaikan di facebook, insyaAlloh ia akan menuai kebaikan yang berlipat. Demikian juga bagi orang yang menanam keburukan, maksiat, perselingkuhan, seks bebas, NISCAYA ia akan menuai keburukan juga.

Saya sih bodo amat dengan mereka yang memanfaatkan facebook untuk menanam ketidakbaikan. Toh yang akan panen ketidakbaikan juga mereka sendiri kan. Yang penting mari kita menanam kebaikan di ladang ini.

Kali ini posting saya: GILA: Potensi Bisnis Di Facebook Luar Biasa, sengaja saya tulis setelah saya membaca, kemudian saya ceritakan kembali pada anda di sini. Sengaja saya himpun untuk saya share pada anda semua. Betapa sangat luar biasanya potensi facebook untuk mengembangkan bisnis.

Sejenak mari perhatikan data berikut:


Ternyata pengguna facebook Indonesia menduduki peringkat ke 4 sedunia sebesar 6 % pada April 2017. Jumlah penggunanya tidak main-main, 111.000.000 pengguna. Dan sekarang pasti sudah sangat meningkat jumlahnya. Seiring semakin murahnya gadget yang bisa akses internet. Seiring semakin pinternya masyarakat kita.

Okay, mari kita lihat juga beberapa data statistik lainnya berikut ini:



Dari total penduduk Indonesia 250 juta jiwa lebih, 132 juta orang adalah pengguna internet. Dan dari 132 juta orang pengguna internet tersebut, 111 juta-nya adalah pengguna facebook.

Itu adalah pengguna-nya ya... alias orang-orang yang menggunakan internet dalam sehari-harinya. Sedangkan konten / isi internet yang paling sering dikunjungi sebagai berikut:



Konten (isi, posting, video, gambar, teks dll) yang paling sering dikunjungi para pengguna tersebut: untuk konten komersial, onlineshop menduduki peringkat pertama. Dan untuk konten media sosial yang paling sering dibuka orang adalah konten dalam facebook.



Dan 129 juta lebih atau sekitar 97,4% jenis konten yang diakses para pengguna itu adalah media sosial.

GILA...!
Apakah sampai di sini anda masih meremehkan facebook?
Facebook adalah pasar yang sangat besar, yang selama ini bisa anda akses dari genggaman tangan anda sehari-hari. Tapi kita sama-sama tak menyadari bahwa di facebook adalah kerumunan orang. Bukankan menjual sesuatu di kerumunan orang membuat dagangan kita laku keras??

Mari kita lihat berapa besar volume dan intensitas transaksi via internet:


Hehehe... mohon anda tidak lupa menutup mulut anda yang menganga keheranan ya...

Okay..okay... kita sekarang membahas soal bisnis kita. Apapun bisnis anda sekarang.

Sejauh mana anda melibatkan internet, media sosial dan khususnya facebook dalam mendulang profit??? Sejauh mana anda menjual (barang atau jasa) di facebook?

Mungkin ada beberapa orang yang berpikir:

"Ah saya usaha dagang biasa di rumah, di kios atau toko saya seperti biasa saja. Saya juga punya facebook. Tapi di facebook ya hanya ber-haha-hihi dengan teman, tetangga, teman lama, temannya suami/istri, temannya anak-anak, juga orang-orang yang tidak saya kenal di dunia offline."

"Ah saya bisnis jasa seperti biasa saja. Saya bisnis di dunia nyata aja. Saya nggak melibatkan facebook. Ah saya pakai facebook buat curhat aja."

"Ah saya pakai facebook buat cari gebetan dan selingkuhan."

"Ah saya pakai facebook biar nggak dibilang katrok aja sama teman dan tetangga saya."

"Ah saya mah pakai facebook buat pamer rumah saya yang mahal, pamer mobil baru saya, pamer kemesraan saya dengan pasangan, pamer lagi makan-makan di restaurant mewah, BIAR teman-teman saya tahu bahwa saya orang paling bahagia, paling kaya dan paling sukses."

Hehehehe... maaf saya tidak menuduh. Hanya terlihat dari beberapa akun facebook yang sudah saya unfriend, kebanyakan curhat, ngeluh, marah, colak-colek akun cewek cantik yang suka pamer foto seksi, dan lain-lain.

Nah,
Sekarang setelah anda tahu berapa potensi transaksi yang bisa anda buat di facebook, apakah anda masuh curhat, ngerumpi, menumpahkan marah pada pasangan anda, membuka rahasia rumah tangga anda, dan hal-hal konyol nggak penting lainnya di facebook???

Mari kita ikut ambil bagian dan mendapat keuntungan dari facebook, tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Mungkin ada diantara anda yang bertanya: 
saya nggak punya bisnis, saya nggak punya barang dagangan, saya nggak punya bisnis yang bisa saya tawarkan pada teman-teman facebook saya. Bagaimana dong?

Silahkan klik http://www.adib.club/p/peluang-usaha.html karena di situ saya sengaja mengumpulkan peluang bisnis yang bisa anda ambil. Modal kecil sampai yang gratis, tapi potensi hasil tidak bisa diremehkan.

Sekian share dari saya, semoga bermanfaat untuk anda.
Salam sejuta perubahan. Salam sukses untuk anda.